On Growing

Memahami Systematic Literature Review

Memahami Systematic Literature Review
Systematic Literature Review menyaring berbagai literatur secara sistematis untuk memperoleh studi yang paling relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.
On Growing · tumbuhCatatan Belajar

Memahami Systematic Literature Review

Ketika membaca banyak belum tentu menelaah

Systematic Literature Review sering dikira cuma cara membaca banyak jurnal. Modul ini merangkum apa itu SLR, tahapannya, alat bantunya, kompetensi yang bisa kita capai, cara berlatih sampai mahir, dan alat ukur untuk menguji pemahaman kita sendiri.

Systematic Literature Review, yang biasa disingkat SLR, kerap dipahami secara keliru sebagai sekadar kegiatan membaca banyak jurnal. Anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. SLR merupakan salah satu metode tinjauan pustaka yang paling dihormati karena caranya yang terencana dan dapat ditelusuri ulang.

Sebagian besar orang memiliki kebiasaan yang serupa ketika mencari rujukan. Mereka membuka mesin pencari, memasukkan kata kunci, lalu mengambil hasil yang muncul paling awal. Yang penting jumlahnya banyak dan tampak berdasar. Cara semacam itu terasa memadai, sampai seseorang mengenal SLR dan menyadari bahwa membaca banyak belum tentu berarti menelaah.

Pada dasarnya, SLR adalah metode meninjau tulisan yang telah ada mengenai suatu topik secara terstruktur, dengan langkah-langkah yang direncanakan terlebih dahulu. Rangkaian langkah itu direncanakan, didokumentasikan, kemudian disintesis, sehingga orang lain dapat memeriksa dan menelusurinya kembali. Hal ini berbeda dengan tinjauan pustaka biasa yang di dalam literatur dikenal sebagai narrative review. Pada tinjauan biasa, penulis memilih rujukan berdasarkan apa yang kebetulan ia ketahui atau ia sukai. Cara itu sah, tetapi pilihannya menjadi bergantung pada selera dan ingatan. SLR berupaya menutup celah tersebut dengan menetapkan pertanyaan penelitian, strategi pencarian, dan aturan mainnya sejak awal. Setelah itu penulis tinggal mengikutinya, terlepas dari apakah hasilnya sesuai harapan atau tidak.

Metode ini berkembang dari bidang kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine). Lembaga bernama Cochrane termasuk yang merintisnya. Alasannya cukup masuk akal. Ketika menyangkut keselamatan nyawa, keputusan tidak layak diambil hanya dari dua atau tiga jurnal yang kebetulan terbaca. Seluruh bukti perlu ditelusuri sejauh yang dapat dijangkau. Pada perkembangan selanjutnya, metode ini diadopsi pula di bidang pendidikan, ilmu sosial, hingga teknik, dan kini digunakan oleh hampir seluruh penelitian yang serius.

Muncul pertanyaan yang wajar, mengapa prosesnya harus serapi itu. Hal yang sesungguhnya dijaga adalah transparansi dan kepercayaan. Pembaca perlu mengetahui asal-usul jurnal yang digunakan. Apabila peneliti lain menempuh langkah yang sama, ia semestinya memperoleh kumpulan jurnal yang serupa, dan pada titik itulah sebuah tinjauan dapat ditelusuri ulang. Yang tidak kalah penting, penulis tidak lagi dapat menyingkirkan secara diam-diam penelitian yang tidak sejalan dengan pendapatnya. Kebiasaan menyingkirkan bukti secara diam-diam itu, yang dalam metodologi disebut bias seleksi, kerap membuat sebuah tinjauan menjadi berat sebelah tanpa disadari.

Alur Systematic Literature Review Lima tahap utama, dari perencanaan hingga sintesis 1 Perencanaan Merumuskan pertanyaan penelitian (kerangka PICO), menyusun protokol, serta menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi. 2 Pencarian Menelusuri basis data (Scopus, Web of Science, PubMed, IEEE Xplore) dengan string pencarian dan operator Boolean (AND, OR). 3 Penyaringan Menghapus duplikat, menyaring judul dan abstrak, lalu membaca teks lengkap. Seluruh proses digambarkan lewat diagram PRISMA. 4 Penilaian dan Ekstraksi Menilai mutu setiap studi, lalu mengekstraksi data penting: tahun terbit, metode, jumlah subjek, dan temuan utama. 5 Sintesis Merangkai temuan menjadi satu narasi yang utuh, menandai pola, dan menemukan celah penelitian (research gap).
Gambar 1. Lima tahap utama Systematic Literature Review, dari perencanaan sampai sintesis.

Bagian yang umumnya paling menyita waktu justru terletak di awal, yaitu penyusunan pertanyaan penelitian. Banyak orang mengira proses pencarian yang paling sulit. Padahal, apabila pertanyaannya masih kabur, pencariannya pun akan kabur. Di bidang kesehatan dikenal kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) untuk menajamkan pertanyaan, yang mencakup siapa yang diteliti, tindakan apa yang dilakukan, apa pembandingnya, dan hasil apa yang hendak diamati. Bidang lain memiliki kerangka tersendiri, tetapi maksudnya sama, yakni memastikan tujuan pencarian telah jelas sebelum pencarian dimulai.

Setelah pertanyaan dirumuskan, biasanya disusun sebuah protokol tinjauan (review protocol), yaitu rencana tertulis yang memuat apa yang akan dicari, di mana pencarian dilakukan, serta jenis jurnal yang boleh diterima atau harus ditolak. Ketentuan penerimaan dan penolakan ini disebut kriteria inklusi dan eksklusi. Contohnya, hanya menerima artikel sepuluh tahun terakhir, atau hanya yang berbahasa Indonesia dan Inggris. Ketentuan tersebut mungkin terkesan berlebihan, tetapi manfaatnya besar. Aturan yang ditetapkan sejak awal menahan seseorang agar tidak mudah tergoda mengubah pendirian di tengah proses hanya karena menemukan satu jurnal yang tampak menarik.

Pencarian yang sesungguhnya baru dimulai setelah tahap itu. Pencarian dilakukan pada basis data seperti Scopus atau Web of Science, dan pada bidang tertentu PubMed atau IEEE Xplore. Kata kunci dirangkai menjadi string pencarian dengan operator Boolean seperti AND dan OR. Tujuannya menjaga agar hasil pencarian tidak terlalu sempit sehingga ada yang terlewat, tetapi juga tidak terlampau luas sehingga peneliti kewalahan.

Pada tahap ini jumlah hasil sering kali mengejutkan. Satu kali pencarian dapat memunculkan ratusan bahkan ribuan rekaman. Di sinilah kesabaran benar-benar diuji. Jurnal yang sama, yang muncul dari beberapa sumber sekaligus, disingkirkan terlebih dahulu. Sisanya disaring melalui judul dan abstrak, lalu yang lolos dibaca secara utuh, satu per satu, untuk memastikan kesesuaiannya. Seluruh proses penyaringan ini digambarkan dalam sebuah bagan alir bernama PRISMA, panduan pelaporan yang kini menjadi rujukan umum pada banyak jurnal. Bagan tersebut memperlihatkan jumlah jurnal yang ditemukan, yang dikeluarkan, dan yang akhirnya digunakan, sehingga siapa pun dapat menilai keseluruhan proses secara ringkas dan penulis tidak memiliki ruang untuk menyembunyikan apa pun.

Diagram Alir PRISMA Bagaimana ribuan rekaman menyusut menjadi sejumlah kecil studi (angka ilustrasi) Duplikat dihapus n = 320 Dikeluarkan (skrining) n = 760 Dikeluarkan (teks penuh) n = 132 IDENTIFIKASI Rekaman ditemukan dari basis data n = 1.240 PENYARINGAN Judul dan abstrak disaring n = 920 KELAYAKAN Teks lengkap dinilai n = 160 TERMASUK Studi yang disintesis n = 28
Gambar 2. Contoh alur penyaringan PRISMA. Angka bersifat ilustrasi.

Jurnal yang lolos penyaringan pun belum tentu langsung digunakan. Mutu setiap studi ditimbang lebih dahulu melalui tahap penilaian mutu (quality appraisal), sebab tidak ada gunanya menumpuk banyak jurnal apabila isinya lemah. Selanjutnya, data penting dari setiap studi diekstraksi dan dicatat, meliputi tahun terbit, metode, jumlah subjek, dan temuan utamanya. Pada tahap akhir, seluruh catatan tersebut disintesis menjadi satu narasi yang utuh. Peneliti mencari benang merahnya, menandai temuan yang saling menguatkan maupun yang bertentangan, serta menelusuri bagian yang belum pernah diteliti, yang biasa disebut celah penelitian (research gap). Bagian yang masih kosong itu kerap menjadi titik awal penelitian baru.

Rangkaian pekerjaan ini memang terasa berat, terlebih apabila dikerjakan sendirian dan hanya mengandalkan ingatan. Untunglah tersedia sejumlah alat bantu. Untuk menata daftar rujukan terdapat perangkat manajemen referensi seperti Mendeley dan Zotero. Untuk menyaring ribuan artikel bersama tim tersedia Rayyan yang gratis, atau Covidence. Untuk memetakan keterkaitan antarpenulis dan antartema tersedia analisis bibliometrik dengan bantuan VOSviewer. Alat-alat tersebut tidak menggantikan pemikiran penggunanya. Perannya hanya menangani pekerjaan yang berulang dan melelahkan, agar tenaga dapat dicurahkan pada hal yang lebih penting.

Dari seluruh langkah tersebut, godaan justru menjadi hambatan yang paling sering muncul, melebihi persoalan alat maupun tahapan. Setiap orang cenderung ingin cepat sampai pada kesimpulan. Secara diam-diam muncul kecenderungan memilih jurnal yang mendukung dugaan awal, sesuatu yang dalam ilmu perilaku dikenal sebagai bias konfirmasi. Seseorang menemukan satu jurnal yang sejalan dengan pemikirannya, lalu tergesa merasa cukup. Padahal, yang membuat sebuah tinjauan layak disebut sistematis tidak terletak di situ. Bukan pada banyaknya jurnal, bukan pula pada kecanggihan alat. Yang menentukan adalah kesediaan mengikuti secara jujur aturan yang telah ditetapkan sendiri, sekalipun hasilnya tidak sesuai harapan.

Apabila direnungkan, pelajaran yang ditawarkan SLR terasa lebih luas daripada urusan menyusun skripsi atau artikel jurnal. Metode ini menuntut kesabaran. Ia juga menuntut keberanian untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya, sekalipun kadang tidak sesuai harapan. Dan ia menuntut kerelaan menahan diri, agar bukti diberi kesempatan berbicara sebelum kesimpulan diambil. Sesuatu yang tampak semata-mata teknis pada akhirnya menyimpan cara bersikap yang dapat diterapkan pada banyak hal.

Kompetensi

Kompetensi yang Dapat Dicapai

Setelah mempelajari modul ini dan menyelesaikan latihannya, kita diharapkan mampu:

  • Menjelaskan perbedaan SLR dengan tinjauan pustaka biasa (narrative review).
  • Merumuskan pertanyaan penelitian yang tajam memakai kerangka PICO atau yang setara.
  • Menyusun protokol tinjauan beserta kriteria inklusi dan eksklusi yang jelas.
  • Membangun string pencarian dengan operator Boolean (AND, OR) di basis data ilmiah.
  • Melakukan penyaringan bertahap dan menggambar diagram alir PRISMA dari angka kita sendiri.
  • Menilai mutu studi, mengekstraksi data, lalu menyintesis temuan hingga menemukan celah penelitian.
  • Mengenali dan menghindari bias seleksi serta bias konfirmasi dalam proses tinjauan.
Latihan & Tes

Cara Mencapainya: Latihan dan Tes Bertahap

Kompetensi di atas tidak datang dari membaca saja, tetapi dari mengerjakan. Ambil satu topik nyata (misalnya topik skripsi atau minat kita), lalu kerjakan enam latihan berikut secara berurutan. Setiap latihan disertai tes kecil untuk menilai hasilnya sendiri.

1

Menajamkan pertanyaan

Tulis satu pertanyaan penelitian menggunakan PICO. Uraikan keempat unsurnya secara terpisah.

Tes: minta seorang rekan membaca pertanyaan kita. Bila ia bisa menyebutkan populasi, tindakan, pembanding, dan hasil yang kita maksud tanpa bertanya balik, pertanyaan kita sudah cukup tajam.

2

Merangkai string pencarian

Ubah kata kunci dari pertanyaan itu menjadi string pencarian dengan AND dan OR. Jalankan di Google Scholar dan satu basis data lain, lalu catat jumlah hasilnya.

Tes: jika hasilnya puluhan ribu, string terlalu luas; jika hanya beberapa, terlalu sempit. Revisi sampai jumlahnya masuk akal untuk disaring (misalnya ratusan).

3

Menyaring dengan kriteria

Tetapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Ambil 20 abstrak dari hasil pencarian, putuskan diterima atau ditolak, dan catat alasannya satu per satu.

Tes konsistensi: ulangi penilaian atas 20 abstrak yang sama keesokan hari tanpa melihat catatan lama. Bandingkan. Bila lebih dari tiga keputusan berubah, kriteria kita belum cukup jelas dan perlu dipertegas.

4

Menggambar PRISMA

Hitung jumlah rekaman yang ditemukan, dibuang karena duplikat, dikeluarkan saat skrining, dan yang akhirnya dipakai. Gambar diagram alir PRISMA kita sendiri (boleh tulis tangan).

Tes: jumlah di setiap kotak harus berkurang secara konsisten dan setiap pengurangan punya angka yang menjelaskannya. Tidak boleh ada angka yang muncul entah dari mana.

5

Ekstraksi dan sintesis

Pilih lima artikel yang lolos. Buat tabel ekstraksi berisi tahun, metode, jumlah subjek, dan temuan utama. Lalu tulis satu paragraf yang merangkai kelimanya, dan sebutkan satu celah penelitian.

Tes: paragraf kita dikatakan berhasil apabila pembaca bisa menangkap pola bersama dan satu hal yang belum terjawab, tanpa perlu membuka kelima artikel aslinya.

✔

Uji akhir: mini-SLR

Susun sebuah tinjauan kecil atas 10 sampai 15 artikel, lengkap dengan protokol, diagram PRISMA, tabel ekstraksi, dan sintesis sepanjang satu halaman.

Tes: serahkan kepada dosen, pustakawan, atau rekan yang paham metode. Minta ia menilai apakah orang lain bisa mengulang pencarian kita dari protokol yang kita tulis. Bila jawabannya ya, kita sudah menguasai inti SLR.

Peta Belajar

Cara Belajar SLR secara Efektif sampai Mahir

Kemahiran datang bertahap. Berikut tiga tingkat yang bisa kita tempuh, masing-masing dengan fokus dan satu tanda bahwa kita siap naik ke tingkat berikutnya.

🌱

Pemula

memahami peta

Baca satu atau dua SLR yang sudah terbit di jurnal bidang kita. Jangan baca isinya lebih dulu, tetapi perhatikan strukturnya: bagaimana pertanyaannya, bagaimana protokolnya, seperti apa diagram PRISMA-nya. Tiru kerangkanya untuk topik kecil kita sendiri.

Siap naik saat: kita bisa menjelaskan alur SLR dengan bahasa sendiri kepada orang lain.

🌿

Menengah

berlatih di topik nyata

Kerjakan latihan 1 sampai 5 di atas pada satu topik yang benar-benar kita minati. Gunakan checklist PRISMA sebagai pemandu, dan satu alat bantu (Mendeley atau Zotero untuk rujukan, Rayyan untuk penyaringan). Minta umpan balik setelah tiap latihan, jangan menunggu sampai selesai semua.

Siap naik saat: kita bisa menghasilkan diagram PRISMA dan tabel ekstraksi yang rapi dari pencarian kita sendiri.

🌳

Mahir

menghasilkan dan menilai

Selesaikan satu mini-SLR utuh, lalu mintalah orang lain mengulang pencarian kita dari protokolnya. Setelah itu, cobalah menjadi penilai: baca SLR orang lain dan temukan di mana bias seleksi atau bias konfirmasi mungkin menyelinap. Kemampuan menilai karya orang adalah tanda kemahiran yang sesungguhnya.

Tanda mahir: hasil kita dapat ditelusuri ulang oleh orang lain, dan kita bisa menunjukkan kelemahan sebuah tinjauan dengan alasan yang jelas.

Kiat belajar yang mempercepat: kerjakan pada topik nyata (bukan contoh khayalan), lakukan bertahap dengan jeda umpan balik, tulis semua keputusan kita supaya bisa ditelusuri, dan ulangi siklusnya beberapa kali. Latihan yang berulang pada masalah nyata jauh lebih membekas daripada membaca teori berkali-kali.

Pengukuran Kompetensi

Uji Pemahaman Kita

Kerjakan tiga jenis soal berikut. Untuk pilihan ganda, klik jawaban kita dan pembahasan langsung muncul. Untuk esai dan teka-teki, pikirkan dulu jawabannya, baru buka kuncinya.

A. Pilihan Ganda

1. Apa yang paling membedakan SLR dari tinjauan pustaka biasa?

Pembahasan: Yang membedakan SLR bukan banyaknya jurnal, melainkan prosedurnya yang direncanakan sejak awal, transparan, dan dapat ditelusuri ulang oleh orang lain.

2. Kerangka PICO dipakai terutama untuk?

Pembahasan: PICO adalah singkatan Population, Intervention, Comparison, Outcome. Fungsinya menajamkan pertanyaan agar pencarian tidak kabur.

3. Fungsi utama diagram alir PRISMA adalah?

Pembahasan: PRISMA adalah panduan pelaporan. Diagram alirnya menunjukkan perjalanan penyaringan secara terbuka, sehingga proses dapat dinilai sekali pandang.

4. Kecenderungan memilih hanya jurnal yang mendukung dugaan awal disebut?

Pembahasan: Kecenderungan memungut bukti yang mendukung dugaan sendiri dikenal sebagai bias konfirmasi. Protokol dan kriteria yang ditetapkan di awal membantu menahannya.

B. Soal Esai

1. Jelaskan dengan bahasa kita sendiri, mengapa menuliskan kriteria inklusi dan eksklusi sebelum mencari itu penting.

Lihat rambu jawaban
Jawaban yang baik menyebut bahwa aturan yang ditulis di awal menjaga kejujuran dan konsistensi. Tanpa itu, peneliti mudah tergoda menerima atau menolak jurnal berdasarkan kecocokan dengan dugaannya, sehingga hasil menjadi berat sebelah (bias seleksi). Kriteria yang ditetapkan lebih dulu juga membuat proses dapat diulang oleh orang lain.

2. Sebuah pencarian menghasilkan 1.240 rekaman, 320 di antaranya duplikat. Setelah skrining judul dan abstrak, 760 dikeluarkan. Dari sisa yang dinilai teks penuh, 132 dikeluarkan. Berapa studi yang akhirnya dipakai? Tunjukkan hitungannya.

Lihat kunci jawaban
1.240 − 320 (duplikat) = 920 disaring. 920 − 760 (dikeluarkan saat skrining) = 160 dinilai teks penuh. 160 − 132 (dikeluarkan) = 28 studi yang akhirnya disintesis. Angka ini sama dengan kotak "Termasuk" pada Gambar 2.

C. Teka-teki

Teka-teki 1 — Urutkan tahapnya. Susunlah lima tahap SLR ini ke urutan yang benar:

Sintesis Pencarian Penilaian dan Ekstraksi Perencanaan Penyaringan
Lihat urutan yang benar
1) Perencanaan → 2) Pencarian → 3) Penyaringan → 4) Penilaian dan Ekstraksi → 5) Sintesis. Lihat kembali Gambar 1 untuk memastikan.

Teka-teki 2 — Cocokkan istilah. Pasangkan istilah di kiri dengan artinya:

  • 1. Duplikat  ·  a. bagian yang belum pernah diteliti
  • 2. Boolean  ·  b. jurnal sama yang muncul dari beberapa sumber
  • 3. Research gap  ·  c. operator perangkai kata kunci seperti AND dan OR
  • 4. Quality appraisal  ·  d. tahap menimbang mutu tiap studi
Lihat pasangan yang benar
1–b (duplikat = jurnal sama dari beberapa sumber), 2–c (Boolean = operator AND/OR), 3–a (research gap = bagian yang belum diteliti), 4–d (quality appraisal = menimbang mutu studi).
Sumber

Sumber dan Bacaan Lanjut

  • Booth, A., Sutton, A., & Papaioannou, D. (2016). Systematic Approaches to a Successful Literature Review (edisi ke-2). London: SAGE Publications.
  • Petticrew, M., & Roberts, H. (2006). Systematic Reviews in the Social Sciences: A Practical Guide. Oxford: Blackwell Publishing.
  • Higgins, J. P. T., Thomas, J., Chandler, J., Cumpston, M., Li, T., Page, M. J., & Welch, V. A. (Ed.). (2019). Cochrane Handbook for Systematic Reviews of Interventions (edisi ke-2). Chichester: John Wiley & Sons.
  • Kitchenham, B., & Charters, S. (2007). Guidelines for Performing Systematic Literature Reviews in Software Engineering (EBSE Technical Report EBSE-2007-01). Keele University dan Durham University.
  • Page, M. J., McKenzie, J. E., Bossuyt, P. M., dkk. (2021). The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews. BMJ, 372, n71. https://doi.org/10.1136/bmj.n71
  • Tranfield, D., Denyer, D., & Smart, P. (2003). Towards a methodology for developing evidence-informed management knowledge by means of systematic review. British Journal of Management, 14(3), 207-222.
  • Snyder, H. (2019). Literature review as a research methodology: An overview and guidelines. Journal of Business Research, 104, 333-339. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2019.07.039

Bagi kita yang tengah menyusun tinjauan pustaka, bagian manakah yang paling terasa menantang? Merumuskan pertanyaannya, menelusuri jurnalnya, atau menyaring hasil yang begitu banyak? Pengalaman kita tentu menarik untuk dibagikan di kolom komentar.

Bagikan X f TG Tersalin!
Juniati

Suka tulisan ini?

Dapatkan jurnal & catatan belajar terbaru langsung ke email Anda.