Research Onion
Setiap penelitian yang rapi sebenarnya lahir dari serangkaian keputusan yang berlapis, dari yang paling mendasar sampai yang paling teknis. Research Onion atau "bawang riset" karya Saunders dan rekan-rekannya adalah peta sederhana untuk menata keputusan itu, satu lapis demi satu lapis. Modul ini mengupasnya tuntas untuk pembaca umum: penjelasan tiap lapisan, kompetensi yang bisa dicapai, tips belajar, diagram yang memudahkan, satu contoh kasus yang dirancang dari luar ke dalam, serta ujian pemahaman lengkap dengan jawabannya.
Apa itu Research Onion?
Research Onion adalah sebuah model visual berbentuk bawang yang diperkenalkan oleh Mark Saunders, Philip Lewis, dan Adrian Thornhill dalam buku ajar mereka, Research Methods for Business Students. Modelnya digambarkan sebagai bawang dengan beberapa lapisan. Untuk sampai ke inti, yaitu ke bagian pengumpulan dan analisis data, seseorang harus mengupas lapisan luar lebih dulu, satu per satu. Setiap lapisan mewakili satu jenis keputusan yang perlu diambil ketika merancang penelitian.
Gagasan utamanya sederhana tetapi kuat. Sebelum kita sibuk memikirkan "menyebar kuesioner ke berapa orang" atau "memakai aplikasi statistik apa", ada keputusan yang lebih mendasar yang harus dijernihkan lebih dulu, misalnya cara pandang kita terhadap kebenaran, dan apakah kita berangkat dari teori atau dari data. Keputusan di lapisan luar akan memandu keputusan di lapisan dalam, sehingga seluruh rancangan menjadi runtut dan saling nyambung.
Perlu ditegaskan sejak awal, bawang riset bukan resep kaku yang mengharuskan semua orang memilih jalan yang sama. Ia lebih mirip daftar pertanyaan yang tersusun rapi: pada tiap lapisan kita ditanya sesuatu, dan jawaban kita akan berbeda tergantung pertanyaan penelitian yang ingin dijawab. Dua peneliti yang jujur bisa saja memilih lapisan yang berbeda untuk topik yang sama, dan keduanya tetap benar selama pilihannya konsisten dan beralasan.
Anatomi Bawang Riset: Enam Lapisan
Model ini terdiri dari enam lapisan, dari yang terluar sampai inti. Kenali dulu keseluruhannya lewat gambar berikut, baru kemudian kita bahas satu per satu.
Perhatikan arah membacanya. Kita mulai dari lapisan terluar (filsafat), lalu bergerak ke dalam. Tiap kali masuk satu lapisan, pilihan kita makin konkret, sampai akhirnya tiba di inti yang paling teknis. Sekarang mari kita kupas satu per satu, kali ini disertai contoh agar mudah dibayangkan.
Lapisan 1 - Filsafat Penelitian
Ini lapisan paling luar sekaligus paling mendasar. Filsafat penelitian adalah cara pandang kita terhadap kenyataan dan pengetahuan. Kedengarannya berat, tetapi intinya satu pertanyaan sederhana: saya percaya kebenaran itu tunggal dan bisa diukur, atau saya percaya kebenaran itu banyak dan bergantung pada tafsir manusia? Jawaban atas pertanyaan itu diurai lewat tiga dimensi.
Ontologi bertanya "apa hakikat kenyataan itu?". Apakah kenyataan sosial berdiri sendiri di luar diri kita, seperti sebuah benda yang bisa diukur siapa saja dengan hasil yang sama, ataukah kenyataan justru terbentuk dari cara orang memaknainya, sehingga bisa berbeda dari orang ke orang? Epistemologi bertanya "apa yang dianggap pengetahuan yang sah, dan bagaimana kita memperolehnya?". Apakah pengetahuan yang sah hanya yang berupa angka dan fakta terukur, ataukah cerita, kesan, dan makna juga dianggap pengetahuan? Aksiologi bertanya "sejauh mana nilai dan keyakinan peneliti boleh ikut bermain?". Apakah peneliti harus benar-benar netral, ataukah wajar bila nilai pribadinya turut mewarnai penelitian, asalkan terbuka mengakuinya.
Saunders dan rekan merangkum lima aliran yang sering dipakai. Positivisme memandang dunia sosial bisa diukur seobjektif ilmu alam, dengan angka dan hukum yang berlaku umum. Realisme kritis percaya dunia nyata memang ada, tetapi yang kita tangkap lewat indra hanyalah sebagian, sehingga peneliti perlu menggali struktur tersembunyi di balik yang tampak. Interpretivisme menekankan bahwa manusia selalu memberi makna, sehingga peneliti berusaha memahami sudut pandang orang, bukan sekadar mengukurnya. Postmodernisme menyoroti peran kuasa dan bahasa, dan mempertanyakan siapa yang sebenarnya menentukan apa yang dianggap "normal" atau "benar". Pragmatisme paling lentur: yang terpenting adalah pertanyaan penelitian terjawab, dan peneliti boleh memakai cara apa pun yang paling berguna.
Bagi pembaca umum, cukup ingat benang merahnya. Positivisme condong ke angka dan objektivitas; interpretivisme condong ke makna dan tafsir; realisme kritis menggali yang tersembunyi; postmodernisme menyoroti kuasa; dan pragmatisme berdiri di tengah, memilih berdasarkan kegunaan. Pilihan di lapisan inilah yang diam-diam mengarahkan semua pilihan berikutnya.
Lapisan 2 - Pendekatan Pengembangan Teori
Lapisan kedua bertanya: dari mana kita berangkat, dari teori atau dari data? Ada tiga jalan, dan masing-masing punya arah berpikir yang berbeda.
Deduksi berangkat dari teori. Kita sudah punya dugaan atau hipotesis lebih dulu, lalu mengumpulkan data untuk menguji apakah dugaan itu terbukti. Alurnya dari umum ke khusus, dan lazim pada penelitian berbasis angka. Induksi berangkat dari data. Kita amati dulu apa yang terjadi di lapangan, tanpa hipotesis di kepala, baru kemudian menyusun pola atau teori dari pengamatan itu. Alurnya dari khusus ke umum, dan lazim pada penelitian yang menggali makna. Abduksi adalah jalan bolak-balik: kita mulai dari sebuah fakta yang mengherankan, menerka penjelasan yang paling masuk akal, lalu mondar-mandir antara data dan teori sampai penjelasannya benar-benar pas.
Cara mudah mengingatnya: deduksi menguji teori, induksi membangun teori, abduksi menyelang-nyeling keduanya. Tidak ada yang lebih unggul secara mutlak. Yang menentukan adalah pertanyaan penelitian dan seberapa banyak teori tentang topik itu sudah tersedia. Bila teorinya sudah matang, deduksi enak dipakai; bila topiknya masih baru dan gelap, induksi atau abduksi lebih cocok.
Lapisan 3 - Pilihan Metodologis
Di lapisan ketiga kita menentukan bentuk data yang dipakai: angka, kata, atau keduanya? Ada tiga kemungkinan.
Metode tunggal (mono-method) memakai satu jenis data saja. Bisa murni kuantitatif, yaitu data angka yang diolah secara statistik; atau murni kualitatif, yaitu data berupa kata, cerita, dan makna. Multi-metode memakai lebih dari satu teknik, tetapi masih dalam keluarga yang sama, misalnya menggabungkan dua teknik kuantitatif (kuesioner dan data penjualan) tanpa menyentuh data kualitatif. Metode campuran (mixed methods) sengaja menyatukan yang kuantitatif dan yang kualitatif dalam satu penelitian; versinya bisa sederhana (sekadar menempelkan keduanya) atau kompleks (keduanya saling menganyam di banyak tahap).
Metode campuran makin populer karena banyak pertanyaan nyata tidak cukup dijawab dengan angka saja atau cerita saja. Angka pandai menunjukkan "berapa banyak" dan "seberapa kuat hubungannya", sedangkan kata pandai menjelaskan "mengapa" dan "bagaimana rasanya". Namun campuran menuntut tenaga, waktu, dan keterampilan lebih, jadi pilihlah ia hanya bila pertanyaannya memang membutuhkan kedua sisi itu.
Lapisan 4 - Strategi Penelitian
Lapisan keempat adalah "rencana besar" untuk menjawab pertanyaan. Inilah bentuk penelitian yang biasanya kita kenali namanya. Saunders dan rekan mendaftar beberapa strategi yang umum, dan tiap strategi punya watak serta contoh khasnya sendiri.
- Eksperimen. Menguji sebab-akibat dengan sengaja mengubah satu hal dan mengamati dampaknya, sambil mengendalikan hal lain. Kuat untuk pertanyaan "apakah X menyebabkan Y". Contoh: dua kelas diajar dengan metode berbeda, lalu nilai ujiannya dibandingkan.
- Survei. Mengumpulkan data dari banyak orang, biasanya lewat kuesioner, untuk melihat pola dan hubungan. Cocok untuk "siapa, apa, berapa banyak, seberapa sering". Contoh: menyebar kuesioner ke 500 warga untuk memetakan kebiasaan berbelanja daring.
- Studi kasus. Menyelidiki satu kasus (satu organisasi, komunitas, atau peristiwa) secara mendalam dalam konteks nyatanya. Cocok untuk "bagaimana" dan "mengapa" yang kaya konteks. Contoh: menelusuri secara rinci bagaimana satu sekolah berhasil menurunkan angka putus sekolah.
- Penelitian arsip & dokumenter. Memakai catatan dan dokumen yang sudah ada, misalnya laporan atau rekam data, sebagai sumber utama. Contoh: menganalisis sepuluh tahun laporan keuangan koperasi untuk melihat tren.
- Etnografi. Menyatu dalam keseharian sebuah kelompok untuk memahami budaya dan maknanya dari dalam. Menuntut waktu lama di lapangan. Contoh: tinggal berbulan-bulan di sebuah pasar tradisional untuk memahami cara pedagang saling percaya.
- Penelitian tindakan (action research). Meneliti sambil memperbaiki. Peneliti dan orang di lapangan bekerja sama dalam siklus mencoba, mengamati, dan menyempurnakan. Contoh: seorang guru mengubah cara mengajar tiap pekan sambil mencatat dampaknya.
- Grounded theory. Membangun teori langsung dari data secara bertahap dan sistematis, tanpa berangkat dari hipotesis. Contoh: mewawancarai banyak pekerja lepas untuk melahirkan teori baru tentang cara mereka menjaga semangat.
- Penelitian naratif. Menggali kisah hidup atau pengalaman seseorang secara utuh sebagai jalan memahami makna. Contoh: merekam perjalanan hidup seorang perawat selama menghadapi masa pandemi.
Sebuah penelitian boleh memakai lebih dari satu strategi bila memang saling melengkapi, misalnya survei untuk memetakan pola lalu studi kasus untuk mendalami satu titik yang menarik. Yang penting, strategi harus cocok dengan lapisan di atasnya dan sanggup dijalankan dengan waktu serta sumber daya yang ada. Etnografi yang menuntut berbulan-bulan di lapangan, misalnya, kurang realistis untuk penelitian yang tenggatnya hanya beberapa minggu.
Lapisan 5 - Cakrawala Waktu
Lapisan kelima ringkas tetapi penting: potret sesaat atau rekaman lintas waktu? Bila data diambil pada satu titik waktu, seperti memotret keadaan hari ini, itu disebut cross-sectional (lintas bagian). Bila data diambil berulang selama periode tertentu untuk melihat perubahan, seperti merekam pertumbuhan dari bulan ke bulan, itu disebut longitudinal (lintas waktu).
Kebanyakan penelitian mahasiswa bersifat cross-sectional karena keterbatasan waktu, sedangkan longitudinal lebih kuat untuk melihat perkembangan dan sebab-akibat, namun menuntut kesabaran serta sumber daya yang jauh lebih besar.
Lapisan 6 - Teknik dan Prosedur
Inilah inti bawang, bagian paling teknis dan paling sering dikira sebagai "keseluruhan metodologi", padahal ia hanya lapisan terakhir. Di sini kita memutuskan bagaimana persisnya data dikumpulkan dan dianalisis. Untuk pengumpulan data, pilihannya antara lain kuesioner, wawancara, observasi, atau pengambilan dari dokumen dan basis data. Untuk analisis data, pilihannya antara lain uji statistik untuk data angka, atau analisis tematik untuk data kata dan makna.
Semua pilihan di lapisan ini seharusnya mengalir wajar dari lapisan-lapisan di atasnya. Kalau lapisan luar sudah jernih, keputusan teknis di inti biasanya jauh lebih mudah dan masuk akal. Justru bila seseorang bingung memilih teknik, sering kali itu tanda bahwa lapisan di atasnya belum benar-benar dijernihkan.
Merancang Riset Lapis demi Lapis
Cara memakai bawang riset adalah menjawab satu pertanyaan pemandu di tiap lapisan, berurutan dari luar ke dalam. Diagram berikut merangkum enam pertanyaan itu.
Kompetensi yang Akan Dicapai
Setelah menuntaskan modul dan latihannya, kita diharapkan mampu:
- Menjelaskan apa itu Research Onion dan mengapa keputusan riset perlu diambil berlapis, dari luar ke dalam.
- Menyebutkan keenam lapisan secara berurutan dan menerangkan pertanyaan pemandu di tiap lapisan.
- Membedakan aliran filsafat utama (positivisme, realisme kritis, interpretivisme, postmodernisme, pragmatisme) secara ringkas.
- Membedakan deduksi, induksi, dan abduksi, serta kapan masing-masing tepat dipakai.
- Memilih pilihan metodologis (tunggal, multi, campuran) dan strategi yang cocok dengan pertanyaan penelitian.
- Menentukan cakrawala waktu serta teknik pengumpulan dan analisis data yang runtut dengan lapisan di atasnya.
- Merancang kerangka metodologi satu penelitian utuh dengan menuruni keenam lapisan secara konsisten.
Tips Mencapai Kompetensi secara Efektif
Tujuh kebiasaan berikut mempercepat pemahaman dan mencegah kekeliruan yang paling sering terjadi.
Contoh Penerapan: Merancang Satu Riset dari Luar ke Dalam
Mari kita coba pada satu kasus konkret. Bayangkan seorang peneliti ingin memahami sebuah persoalan nyata di sekitarnya.
"Apa yang membuat pemilik usaha mikro dan kecil (UMKM) di sebuah kota terus memakai pembayaran digital QRIS, dan apa yang membuat sebagian berhenti memakainya?"
Pertanyaan ini menarik karena punya dua sisi. Ada sisi "seberapa kuat pengaruh faktor tertentu" yang cocok dijawab dengan angka, dan ada sisi "mengapa dan bagaimana rasanya" yang hanya bisa digali lewat cerita pemilik usaha. Kita turuni bawangnya lapis demi lapis.
Perhatikan bagaimana tiap lapisan mengalir wajar ke lapisan berikutnya. Pragmatisme membuka pintu ke metode campuran; metode campuran menuntun ke gabungan survei dan studi kasus; dan semuanya berakhir pada teknik yang konkret. Itulah tanda rancangan yang runtut.
Uji Pemahaman Kita
Kerjakan empat bagian berikut. Pilihan ganda langsung memberi tahu benar atau salah beserta pembahasan. Untuk esai, pikirkan dulu jawabannya lalu buka rambu jawaban dengan tombol Kunci. Bagian gamifikasi bisa diklik langsung dan menghitung poin.
A. Pilihan Ganda
1. Apa gagasan utama di balik Research Onion?
2. Manakah urutan lapisan yang benar, dari terluar ke inti?
3. Seorang peneliti berangkat dari teori, menyusun hipotesis, lalu menguji dengan data. Ini pendekatan?
4. Aliran filsafat yang paling menekankan makna dan tafsir manusia, bukan sekadar pengukuran objektif, adalah?
5. Data diambil hanya pada satu titik waktu, seperti memotret keadaan hari ini. Cakrawala waktu ini disebut?
6. Penelitian sengaja menggabungkan data angka (kuesioner) dan data kata (wawancara) dalam satu studi. Pilihan metodologis ini disebut?
B. Soal Esai
1. Dengan bahasa sendiri, jelaskan mengapa keputusan di lapisan filsafat (lapisan terluar) bisa memengaruhi keputusan di lapisan teknik (inti).
Lihat rambu jawaban
2. Seorang mahasiswa ingin mengetahui "seberapa besar pengaruh jam tidur terhadap nilai ujian pada 300 siswa". Turunkan rancangannya melalui enam lapisan, dan beri alasan singkat tiap lapisan.
Lihat contoh jawaban
3. Mengapa Saunders dan rekan menekankan bahwa Research Onion adalah "alat berpikir", bukan "resep tunggal"? Berikan satu contoh untuk mendukung jawabanmu.
Lihat rambu jawaban
C. Gamifikasi
D. Latihan Mandiri
Latihan - Rancang onion-mu sendiri. Pilih satu topik yang kamu pedulikan. Tuliskan satu pertanyaan penelitian, lalu isi keenam lapisan untuk pertanyaan itu, masing-masing dengan satu kalimat alasan "dipilih karena...".
Lihat kerangka pengisian
1) Filsafat: ... (dipilih karena ...)
2) Pendekatan teori: ... (dipilih karena ...)
3) Pilihan metodologis: ... (dipilih karena ...)
4) Strategi: ... (dipilih karena ...)
5) Cakrawala waktu: ... (dipilih karena ...)
6) Teknik & prosedur: ... (dipilih karena ...).
Bacalah ulang dari atas ke bawah. Bila tiap baris terasa nyambung dengan baris di atasnya, rancanganmu sudah runtut.
Referensi Jurnal & Buku Teks
Sumber utama (asal model):
- Saunders, M. N. K., Lewis, P., & Thornhill, A. (2023). Research Methods for Business Students (edisi ke-9). Harlow: Pearson Education. - Buku ajar tempat Research Onion diperkenalkan dan terus disempurnakan; edisi mutakhir.
- Saunders, M. N. K., Lewis, P., & Thornhill, A. (2019). Research Methods for Business Students (edisi ke-8). Harlow: Pearson Education.
- Saunders, M. N. K., Lewis, P., & Thornhill, A. (2007). Research Methods for Business Students (edisi ke-4). Harlow: Prentice Hall / Pearson. - Edisi yang memperkenalkan bentuk "onion" yang kita kenal sekarang.
Artikel jurnal & sumber pendukung:
- Saunders, M. N. K., & Tosey, P. (2013). The Layers of Research Design. Rapport, Winter 2012/2013, 58-59. - Uraian ringkas para penulis tentang lapisan-lapisan rancangan riset.
- Melnikovas, A. (2018). Towards an Explicit Research Methodology: Adapting Research Onion Model for Futures Studies. Journal of Futures Studies, 23(2), 29-44. https://doi.org/10.6531/JFS.201812_23(2).0003 - Contoh adaptasi dan pembahasan kritis model onion di jurnal ilmiah.
- Bryman, A., & Bell, E. (2015). Business Research Methods (edisi ke-4). Oxford: Oxford University Press. - Buku teks pelengkap untuk strategi dan metode penelitian bisnis.
- Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (edisi ke-5). Thousand Oaks, CA: SAGE. - Rujukan utama untuk pendekatan dan metode campuran.
- Crotty, M. (1998). The Foundations of Social Research: Meaning and Perspective in the Research Process. London: SAGE. - Rujukan klasik untuk lapisan filsafat (ontologi & epistemologi).
Catatan: rincian edisi dan tahun dapat berbeda menurut cetakan dan penerbit di tiap negara. Selalu periksa halaman kredit buku yang Anda pegang saat menuliskan daftar pustaka.
Dari keenam lapisan itu, lapisan mana yang menurut Anda paling sering dilewati orang saat menyusun penelitian? Ceritanya menarik untuk dibagikan di kolom komentar.