> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://juniati.com/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Research Onion
- URL: https://juniati.com/research-onion/
- Published: 2026-08-26T14:12:18.000Z
- Updated: 2026-08-26T14:12:18.000Z
- Description: Kupas tuntas Research Onion karya Saunders dkk: enam lapisan keputusan riset dari filsafat hingga teknik, lengkap dengan diagram, contoh kasus, tips, dan ujian pemahaman berjawaban.
- Author: Juniati
- Tags: On Growing

Modul BelajarMetodologi Riset | Research Onion

Setiap penelitian yang rapi sebenarnya lahir dari serangkaian keputusan yang berlapis, dari yang paling mendasar sampai yang paling teknis. *Research Onion* atau "bawang riset" karya Saunders dan rekan-rekannya adalah peta sederhana untuk menata keputusan itu, satu lapis demi satu lapis. Modul ini mengupasnya tuntas untuk pembaca umum: penjelasan tiap lapisan, kompetensi yang bisa dicapai, tips belajar, diagram yang memudahkan, satu contoh kasus yang dirancang dari luar ke dalam, serta ujian pemahaman lengkap dengan jawabannya.

## Apa itu Research Onion?

*Research Onion* adalah sebuah model visual berbentuk bawang yang diperkenalkan oleh Mark Saunders, Philip Lewis, dan Adrian Thornhill dalam buku ajar mereka, *Research Methods for Business Students*. Modelnya digambarkan sebagai bawang dengan beberapa lapisan. Untuk sampai ke inti, yaitu ke bagian pengumpulan dan analisis data, seseorang harus mengupas lapisan luar lebih dulu, satu per satu. Setiap lapisan mewakili satu jenis keputusan yang perlu diambil ketika merancang penelitian.

Gagasan utamanya sederhana tetapi kuat. Sebelum kita sibuk memikirkan "menyebar kuesioner ke berapa orang" atau "memakai aplikasi statistik apa", ada keputusan yang lebih mendasar yang harus dijernihkan lebih dulu, misalnya cara pandang kita terhadap kebenaran, dan apakah kita berangkat dari teori atau dari data. Keputusan di lapisan luar akan memandu keputusan di lapisan dalam, sehingga seluruh rancangan menjadi runtut dan saling nyambung.

Perlu ditegaskan sejak awal, bawang riset bukan resep kaku yang mengharuskan semua orang memilih jalan yang sama. Ia lebih mirip daftar pertanyaan yang tersusun rapi: pada tiap lapisan kita ditanya sesuatu, dan jawaban kita akan berbeda tergantung pertanyaan penelitian yang ingin dijawab. Dua peneliti yang jujur bisa saja memilih lapisan yang berbeda untuk topik yang sama, dan keduanya tetap benar selama pilihannya konsisten dan beralasan.

**Kenapa disebut "bawang"?** Karena keputusan riset itu berlapis. Kita tidak bisa langsung menyentuh inti (teknik pengumpulan data) tanpa lebih dulu menjernihkan lapisan-lapisan di luarnya (cara pandang, pendekatan, strategi, dan waktu). Mengupasnya berurutan membuat rancangan tidak gampang mentah di tengah jalan.

## Anatomi Bawang Riset: Enam Lapisan

Model ini terdiri dari enam lapisan, dari yang terluar sampai inti. Kenali dulu keseluruhannya lewat gambar berikut, baru kemudian kita bahas satu per satu.

Research Onion (Bawang Riset) Enam lapisan beserta rinciannya, dari luar ke inti - Saunders, Lewis & Thornhill 1\. Filsafat Penelitian (research philosophy) Dimensi: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Aliran: Positivisme, Realisme kritis, Interpretivisme, Postmodernisme, Pragmatisme 2\. Pendekatan Teori (approach to theory) Deduksi, Induksi, Abduksi menguji, membangun, atau memadukan teori 3\. Pilihan Metodologis (methodological choice) Metode tunggal: kuantitatif atau kualitatif Multi-metode, atau Metode campuran (mixed methods) 4\. Strategi Penelitian (strategy) Eksperimen, Survei, Studi kasus, Arsip & dokumenter, Etnografi, Penelitian tindakan, Grounded theory, Naratif 5\. Cakrawala Waktu Cross-sectional, atau Longitudinal potret sesaat, atau rekaman lintas waktu 6\. Teknik & Prosedur pengumpulan & analisis data Arah mengupas: dari lapisan luar (Filsafat) menuju inti (Teknik & Prosedur) 

Gambar 1\. Enam lapisan Research Onion beserta rinciannya. Lapisan terluar adalah keputusan paling mendasar; inti adalah teknik pengumpulan dan analisis data.

Perhatikan arah membacanya. Kita mulai dari lapisan terluar (filsafat), lalu bergerak ke dalam. Tiap kali masuk satu lapisan, pilihan kita makin konkret, sampai akhirnya tiba di inti yang paling teknis. Sekarang mari kita kupas satu per satu, kali ini disertai contoh agar mudah dibayangkan.

## Lapisan 1 - Filsafat Penelitian

Ini lapisan paling luar sekaligus paling mendasar. Filsafat penelitian adalah cara pandang kita terhadap kenyataan dan pengetahuan. Kedengarannya berat, tetapi intinya satu pertanyaan sederhana: **saya percaya kebenaran itu tunggal dan bisa diukur, atau saya percaya kebenaran itu banyak dan bergantung pada tafsir manusia?** Jawaban atas pertanyaan itu diurai lewat tiga dimensi.

Tiga dimensi cara pandang

**Ontologi** bertanya "apa hakikat kenyataan itu?". Apakah kenyataan sosial berdiri sendiri di luar diri kita, seperti sebuah benda yang bisa diukur siapa saja dengan hasil yang sama, ataukah kenyataan justru terbentuk dari cara orang memaknainya, sehingga bisa berbeda dari orang ke orang? **Epistemologi** bertanya "apa yang dianggap pengetahuan yang sah, dan bagaimana kita memperolehnya?". Apakah pengetahuan yang sah hanya yang berupa angka dan fakta terukur, ataukah cerita, kesan, dan makna juga dianggap pengetahuan? **Aksiologi** bertanya "sejauh mana nilai dan keyakinan peneliti boleh ikut bermain?". Apakah peneliti harus benar-benar netral, ataukah wajar bila nilai pribadinya turut mewarnai penelitian, asalkan terbuka mengakuinya.

ContohAmbil topik "kepuasan pelanggan sebuah warung kopi". Secara **ontologi**, seorang peneliti bisa menganggap "kepuasan" itu sesuatu yang nyata dan bisa diukur dengan skor 1-5; peneliti lain menganggap "kepuasan" adalah perasaan yang maknanya berbeda bagi tiap orang. Secara **epistemologi**, yang pertama percaya angka rata-rata kepuasan sudah cukup jadi pengetahuan; yang kedua merasa perlu mendengar cerita pelanggan agar benar-benar paham. Secara **aksiologi**, bila si peneliti kebetulan pemilik warung itu, ia perlu jujur bahwa keinginannya melihat hasil bagus bisa memengaruhi cara ia bertanya.

Lima aliran filsafat yang umum

Saunders dan rekan merangkum lima aliran yang sering dipakai. **Positivisme** memandang dunia sosial bisa diukur seobjektif ilmu alam, dengan angka dan hukum yang berlaku umum. **Realisme kritis** percaya dunia nyata memang ada, tetapi yang kita tangkap lewat indra hanyalah sebagian, sehingga peneliti perlu menggali struktur tersembunyi di balik yang tampak. **Interpretivisme** menekankan bahwa manusia selalu memberi makna, sehingga peneliti berusaha memahami sudut pandang orang, bukan sekadar mengukurnya. **Postmodernisme** menyoroti peran kuasa dan bahasa, dan mempertanyakan siapa yang sebenarnya menentukan apa yang dianggap "normal" atau "benar". **Pragmatisme** paling lentur: yang terpenting adalah pertanyaan penelitian terjawab, dan peneliti boleh memakai cara apa pun yang paling berguna.

Contoh - lima cara memandang satu warung kopiSeorang **positivis** menyebar kuesioner ke 200 pelanggan dan mencari pola umum: "kecepatan layanan paling memengaruhi kepuasan". Seorang **realis kritis** curiga angka itu cuma permukaan, lalu menggali struktur di baliknya, misalnya sistem penggajian barista yang membuat mereka terburu-buru. Seorang **interpretivis** duduk mengobrol dengan pelanggan untuk memahami apa arti "kopi yang enak" bagi masing-masing. Seorang **postmodernis** mempertanyakan mengapa selera kelas menengah kota dianggap standar "kopi bagus", dan suara siapa yang terpinggirkan. Seorang **pragmatis** memakai kuesioner sekaligus obrolan, asalkan keduanya membantu menjawab pertanyaannya.

Bagi pembaca umum, cukup ingat benang merahnya. Positivisme condong ke angka dan objektivitas; interpretivisme condong ke makna dan tafsir; realisme kritis menggali yang tersembunyi; postmodernisme menyoroti kuasa; dan pragmatisme berdiri di tengah, memilih berdasarkan kegunaan. Pilihan di lapisan inilah yang diam-diam mengarahkan semua pilihan berikutnya.

## Lapisan 2 - Pendekatan Pengembangan Teori

Lapisan kedua bertanya: dari mana kita berangkat, dari teori atau dari data? Ada tiga jalan, dan masing-masing punya arah berpikir yang berbeda.

**Deduksi** berangkat dari teori. Kita sudah punya dugaan atau hipotesis lebih dulu, lalu mengumpulkan data untuk menguji apakah dugaan itu terbukti. Alurnya dari umum ke khusus, dan lazim pada penelitian berbasis angka. **Induksi** berangkat dari data. Kita amati dulu apa yang terjadi di lapangan, tanpa hipotesis di kepala, baru kemudian menyusun pola atau teori dari pengamatan itu. Alurnya dari khusus ke umum, dan lazim pada penelitian yang menggali makna. **Abduksi** adalah jalan bolak-balik: kita mulai dari sebuah fakta yang mengherankan, menerka penjelasan yang paling masuk akal, lalu mondar-mandir antara data dan teori sampai penjelasannya benar-benar pas.

Contoh - tiga cara meneliti "kenapa warung A lebih laris"**Deduksi:** peneliti percaya pada teori "harga murah menaikkan penjualan", lalu menyusun hipotesis dan menguji dengan data harga serta omzet sepuluh warung. **Induksi:** peneliti mengamati keseharian lima warung yang laris tanpa praduga, mencatat apa yang berulang, lalu menyimpulkan pola baru, misalnya "warung laris selalu punya penjual yang hafal nama pelanggan". **Abduksi:** peneliti menemukan fakta ganjil, warung A laris padahal harganya lebih mahal; ia menerka penjelasan terbaik (mungkin karena rasa, mungkin karena suasana), lalu menguji terkaan itu, dan menyempurnakannya sambil jalan.

Cara mudah mengingatnya: deduksi *menguji* teori, induksi *membangun* teori, abduksi *menyelang-nyeling* keduanya. Tidak ada yang lebih unggul secara mutlak. Yang menentukan adalah pertanyaan penelitian dan seberapa banyak teori tentang topik itu sudah tersedia. Bila teorinya sudah matang, deduksi enak dipakai; bila topiknya masih baru dan gelap, induksi atau abduksi lebih cocok.

## Lapisan 3 - Pilihan Metodologis

Di lapisan ketiga kita menentukan bentuk data yang dipakai: **angka, kata, atau keduanya?** Ada tiga kemungkinan.

**Metode tunggal** (mono-method) memakai satu jenis data saja. Bisa murni **kuantitatif**, yaitu data angka yang diolah secara statistik; atau murni **kualitatif**, yaitu data berupa kata, cerita, dan makna. **Multi-metode** memakai lebih dari satu teknik, tetapi masih dalam keluarga yang sama, misalnya menggabungkan dua teknik kuantitatif (kuesioner dan data penjualan) tanpa menyentuh data kualitatif. **Metode campuran** (mixed methods) sengaja menyatukan yang kuantitatif dan yang kualitatif dalam satu penelitian; versinya bisa sederhana (sekadar menempelkan keduanya) atau kompleks (keduanya saling menganyam di banyak tahap).

Contoh - meneliti "efektivitas pelatihan karyawan"**Kuantitatif tunggal:** membandingkan skor tes karyawan sebelum dan sesudah pelatihan, lalu diuji statistik. **Kualitatif tunggal:** mewawancarai peserta untuk memahami perubahan yang mereka rasakan dalam bekerja. **Multi-metode:** memakai skor tes sekaligus data absensi dan produktivitas, semuanya berupa angka. **Metode campuran:** memakai skor tes (angka) untuk melihat "seberapa besar peningkatannya", lalu wawancara (kata) untuk memahami "mengapa sebagian karyawan meningkat pesat dan sebagian tidak".

Metode campuran makin populer karena banyak pertanyaan nyata tidak cukup dijawab dengan angka saja atau cerita saja. Angka pandai menunjukkan "berapa banyak" dan "seberapa kuat hubungannya", sedangkan kata pandai menjelaskan "mengapa" dan "bagaimana rasanya". Namun campuran menuntut tenaga, waktu, dan keterampilan lebih, jadi pilihlah ia hanya bila pertanyaannya memang membutuhkan kedua sisi itu.

## Lapisan 4 - Strategi Penelitian

Lapisan keempat adalah "rencana besar" untuk menjawab pertanyaan. Inilah bentuk penelitian yang biasanya kita kenali namanya. Saunders dan rekan mendaftar beberapa strategi yang umum, dan tiap strategi punya watak serta contoh khasnya sendiri.

- **Eksperimen.** Menguji sebab-akibat dengan sengaja mengubah satu hal dan mengamati dampaknya, sambil mengendalikan hal lain. Kuat untuk pertanyaan "apakah X menyebabkan Y". *Contoh:* dua kelas diajar dengan metode berbeda, lalu nilai ujiannya dibandingkan.
- **Survei.** Mengumpulkan data dari banyak orang, biasanya lewat kuesioner, untuk melihat pola dan hubungan. Cocok untuk "siapa, apa, berapa banyak, seberapa sering". *Contoh:* menyebar kuesioner ke 500 warga untuk memetakan kebiasaan berbelanja daring.
- **Studi kasus.** Menyelidiki satu kasus (satu organisasi, komunitas, atau peristiwa) secara mendalam dalam konteks nyatanya. Cocok untuk "bagaimana" dan "mengapa" yang kaya konteks. *Contoh:* menelusuri secara rinci bagaimana satu sekolah berhasil menurunkan angka putus sekolah.
- **Penelitian arsip & dokumenter.** Memakai catatan dan dokumen yang sudah ada, misalnya laporan atau rekam data, sebagai sumber utama. *Contoh:* menganalisis sepuluh tahun laporan keuangan koperasi untuk melihat tren.
- **Etnografi.** Menyatu dalam keseharian sebuah kelompok untuk memahami budaya dan maknanya dari dalam. Menuntut waktu lama di lapangan. *Contoh:* tinggal berbulan-bulan di sebuah pasar tradisional untuk memahami cara pedagang saling percaya.
- **Penelitian tindakan (action research).** Meneliti sambil memperbaiki. Peneliti dan orang di lapangan bekerja sama dalam siklus mencoba, mengamati, dan menyempurnakan. *Contoh:* seorang guru mengubah cara mengajar tiap pekan sambil mencatat dampaknya.
- **Grounded theory.** Membangun teori langsung dari data secara bertahap dan sistematis, tanpa berangkat dari hipotesis. *Contoh:* mewawancarai banyak pekerja lepas untuk melahirkan teori baru tentang cara mereka menjaga semangat.
- **Penelitian naratif.** Menggali kisah hidup atau pengalaman seseorang secara utuh sebagai jalan memahami makna. *Contoh:* merekam perjalanan hidup seorang perawat selama menghadapi masa pandemi.

Sebuah penelitian boleh memakai lebih dari satu strategi bila memang saling melengkapi, misalnya survei untuk memetakan pola lalu studi kasus untuk mendalami satu titik yang menarik. Yang penting, strategi harus cocok dengan lapisan di atasnya dan sanggup dijalankan dengan waktu serta sumber daya yang ada. Etnografi yang menuntut berbulan-bulan di lapangan, misalnya, kurang realistis untuk penelitian yang tenggatnya hanya beberapa minggu.

## Lapisan 5 - Cakrawala Waktu

Lapisan kelima ringkas tetapi penting: **potret sesaat atau rekaman lintas waktu?** Bila data diambil pada satu titik waktu, seperti memotret keadaan hari ini, itu disebut **cross-sectional** (lintas bagian). Bila data diambil berulang selama periode tertentu untuk melihat perubahan, seperti merekam pertumbuhan dari bulan ke bulan, itu disebut **longitudinal** (lintas waktu).

Contoh**Cross-sectional:** menanyakan tingkat stres 300 mahasiswa satu kali, saat pekan ujian, untuk memotret keadaan mereka sekarang. **Longitudinal:** mengikuti 300 mahasiswa yang sama selama tiga tahun, mengukur stres tiap semester, untuk melihat bagaimana stres itu naik-turun seiring waktu.

Kebanyakan penelitian mahasiswa bersifat cross-sectional karena keterbatasan waktu, sedangkan longitudinal lebih kuat untuk melihat perkembangan dan sebab-akibat, namun menuntut kesabaran serta sumber daya yang jauh lebih besar.

## Lapisan 6 - Teknik dan Prosedur

Inilah inti bawang, bagian paling teknis dan paling sering dikira sebagai "keseluruhan metodologi", padahal ia hanya lapisan terakhir. Di sini kita memutuskan **bagaimana persisnya data dikumpulkan dan dianalisis**. Untuk **pengumpulan data**, pilihannya antara lain kuesioner, wawancara, observasi, atau pengambilan dari dokumen dan basis data. Untuk **analisis data**, pilihannya antara lain uji statistik untuk data angka, atau analisis tematik untuk data kata dan makna.

ContohUntuk topik "kepuasan pelanggan warung kopi" dengan cara pandang positivis, tekniknya bisa berupa **kuesioner** skala 1-5 kepada 200 pelanggan, lalu dianalisis dengan **statistik** (rata-rata dan regresi) untuk melihat faktor mana yang paling berpengaruh. Sebaliknya, dengan cara pandang interpretivis, tekniknya bisa berupa **wawancara mendalam** kepada 12 pelanggan, lalu dianalisis dengan **analisis tematik** untuk menemukan tema-tema makna yang berulang.

Semua pilihan di lapisan ini seharusnya mengalir wajar dari lapisan-lapisan di atasnya. Kalau lapisan luar sudah jernih, keputusan teknis di inti biasanya jauh lebih mudah dan masuk akal. Justru bila seseorang bingung memilih teknik, sering kali itu tanda bahwa lapisan di atasnya belum benar-benar dijernihkan.

## Merancang Riset Lapis demi Lapis

Cara memakai bawang riset adalah menjawab satu pertanyaan pemandu di tiap lapisan, berurutan dari luar ke dalam. Diagram berikut merangkum enam pertanyaan itu.

Enam Pertanyaan Pemandu Jawab berurutan, dari lapisan luar menuju inti 1 Filsafat Penelitian "Kebenaran itu tunggal dan terukur, atau banyak dan bergantung pada tafsir manusia?" 2 Pendekatan Teori "Saya menguji teori (deduksi), membangun teori dari data (induksi), atau bolak-balik keduanya (abduksi)?" 3 Pilihan Metodologis "Datanya berupa angka, kata, atau keduanya (metode campuran)?" 4 Strategi Penelitian "Rencana besar apa yang dipakai: survei, studi kasus, eksperimen, etnografi, dan seterusnya?" 5 Cakrawala Waktu "Potret sesaat (cross-sectional) atau rekaman lintas waktu (longitudinal)?" 6 Teknik & Prosedur (inti) "Bagaimana persisnya data dikumpulkan dan dianalisis?" 

Gambar 2\. Enam pertanyaan pemandu, satu untuk tiap lapisan. Jawaban lapisan atas memandu jawaban lapisan di bawahnya.

Kompetensi

## Kompetensi yang Akan Dicapai

Setelah menuntaskan modul dan latihannya, kita diharapkan mampu:

- Menjelaskan apa itu Research Onion dan mengapa keputusan riset perlu diambil berlapis, dari luar ke dalam.
- Menyebutkan keenam lapisan secara berurutan dan menerangkan pertanyaan pemandu di tiap lapisan.
- Membedakan aliran filsafat utama (positivisme, realisme kritis, interpretivisme, postmodernisme, pragmatisme) secara ringkas.
- Membedakan deduksi, induksi, dan abduksi, serta kapan masing-masing tepat dipakai.
- Memilih pilihan metodologis (tunggal, multi, campuran) dan strategi yang cocok dengan pertanyaan penelitian.
- Menentukan cakrawala waktu serta teknik pengumpulan dan analisis data yang runtut dengan lapisan di atasnya.
- Merancang kerangka metodologi satu penelitian utuh dengan menuruni keenam lapisan secara konsisten.

Tips Belajar

## Tips Mencapai Kompetensi secara Efektif

Tujuh kebiasaan berikut mempercepat pemahaman dan mencegah kekeliruan yang paling sering terjadi.

1

**Mulai dari pertanyaan penelitian, bukan dari metode.** Rumuskan dulu pertanyaan yang ingin dijawab. Bawang riset baru berguna sebagai alat untuk menurunkan pertanyaan itu menjadi keputusan yang konkret.

2

**Kupas berurutan dari luar.** Jangan tergoda langsung memikirkan kuesioner. Jernihkan dulu filsafat dan pendekatan, karena keduanya diam-diam mengarahkan sisanya.

3

**Uji keselarasan antarlapisan.** Setelah semua terisi, baca dari atas ke bawah. Bila ada lapisan yang "meloncat" dan tak nyambung, di situlah rancangan perlu diperbaiki.

4

**Ingat kata kunci tiap lapisan.** Filsafat = cara pandang; pendekatan = arah teori; metodologis = angka atau kata; strategi = rencana besar; waktu = sesaat atau lintas waktu; teknik = cara persisnya.

5

**Latih dengan contoh nyata.** Ambil satu skripsi atau artikel, lalu coba petakan ke enam lapisan. Kemampuan "membaca" onion orang lain mempercepat kemampuan menyusun onion sendiri.

6

**Jangan anggap satu jalan lebih hebat.** Positivisme tidak lebih ilmiah daripada interpretivisme. Yang menentukan kecocokan adalah pertanyaan penelitian, bukan gengsi.

7

**Tulis alasan tiap pilihan satu kalimat.** Di bagian metode, sertai tiap keputusan dengan "dipilih karena...". Inilah yang membedakan rancangan yang matang dari sekadar ikut-ikutan.

## Contoh Penerapan: Merancang Satu Riset dari Luar ke Dalam

Mari kita coba pada satu kasus konkret. Bayangkan seorang peneliti ingin memahami sebuah persoalan nyata di sekitarnya.

Pertanyaan penelitian

**"Apa yang membuat pemilik usaha mikro dan kecil (UMKM) di sebuah kota terus memakai pembayaran digital QRIS, dan apa yang membuat sebagian berhenti memakainya?"**

Pertanyaan ini menarik karena punya dua sisi. Ada sisi "seberapa kuat pengaruh faktor tertentu" yang cocok dijawab dengan angka, dan ada sisi "mengapa dan bagaimana rasanya" yang hanya bisa digali lewat cerita pemilik usaha. Kita turuni bawangnya lapis demi lapis.

1

**Filsafat - Pragmatisme.** Peneliti tidak ingin terjebak memilih antara angka atau cerita. Yang utama baginya adalah menjawab pertanyaan sebaik mungkin. Maka ia memilih pragmatisme, yang memberi kebebasan memakai apa pun yang paling berguna.

2

**Pendekatan - Abduksi.** Ia mulai dari satu fakta mengherankan: banyak UMKM mendaftar QRIS tetapi diam-diam berhenti memakainya. Ia menerka beberapa penjelasan (biaya, kebiasaan pelanggan, kendala teknis), lalu bolak-balik antara data dan teori untuk menemukan penjelasan yang paling pas.

3

**Pilihan metodologis - Metode campuran.** Angka dipakai untuk memetakan faktor mana yang paling kuat pengaruhnya; kata dipakai untuk memahami alasan di baliknya. Keduanya digabung dalam satu penelitian.

4

**Strategi - Survei lalu studi kasus.** Tahap pertama, survei kuesioner ke banyak pemilik UMKM untuk melihat pola. Tahap kedua, studi kasus mendalam pada beberapa pemilik yang berhenti memakai QRIS, untuk mengerti ceritanya secara utuh.

5

**Cakrawala waktu - Cross-sectional.** Karena keterbatasan waktu, data diambil pada satu periode, misalnya selama dua bulan. Ini potret keadaan sekarang, bukan rekaman perubahan bertahun-tahun.

6

**Teknik & prosedur - Kuesioner + wawancara.** Pengumpulan: kuesioner daring (skala 1-5) untuk bagian angka, dan wawancara semi-terstruktur untuk bagian cerita. Analisis: statistik deskriptif dan regresi untuk angka, serta analisis tematik untuk hasil wawancara.

Perhatikan bagaimana tiap lapisan mengalir wajar ke lapisan berikutnya. Pragmatisme membuka pintu ke metode campuran; metode campuran menuntun ke gabungan survei dan studi kasus; dan semuanya berakhir pada teknik yang konkret. Itulah tanda rancangan yang runtut.

Onion Terisi - Studi Kasus QRIS Satu keputusan konkret di tiap lapisan 1\. Filsafat Pragmatisme 2\. Pendekatan Teori Abduksi 3\. Pilihan Metodologis Metode Campuran 4\. Strategi Survei + Studi Kasus 5\. Cakrawala Waktu Cross-sectional 6\. Teknik & Prosedur Kuesioner + Wawancara; regresi + analisis tematik Tiap baris mengalir wajar ke baris di bawahnya - itulah tanda rancangan yang runtut. 

Gambar 3\. Ringkasan rancangan studi kasus QRIS, dipetakan ke enam lapisan bawang riset.

**Kalau pertanyaannya berbeda, onion-nya pun berbeda.** Andai pertanyaannya menjadi "bagaimana pengalaman batin seorang pedagang kecil saat pertama kali beralih ke pembayaran digital?", peneliti mungkin memilih interpretivisme, induksi, metode kualitatif murni, strategi naratif atau etnografi, cakrawala longitudinal, dengan teknik wawancara mendalam dan analisis tematik. Sama topik, beda pertanyaan, beda seluruh lapisan. Inilah mengapa bawang riset disebut alat berpikir, bukan resep tunggal.

Pengujian Pemahaman

## Uji Pemahaman Kita

Kerjakan empat bagian berikut. Pilihan ganda langsung memberi tahu benar atau salah beserta pembahasan. Untuk esai, pikirkan dulu jawabannya lalu buka rambu jawaban dengan tombol Kunci. Bagian gamifikasi bisa diklik langsung dan menghitung poin.

### A. Pilihan Ganda

**1.** Apa gagasan utama di balik Research Onion?

ASebuah uji statistik untuk menggabungkan banyak penelitian. BKeputusan riset itu berlapis dan sebaiknya diambil berurutan dari luar ke inti. CDaftar wajib aplikasi statistik yang harus dipakai peneliti. 

**Pembahasan:** Bawang riset menata keputusan penelitian secara berlapis. Kita mengupas dari lapisan luar (paling mendasar) menuju inti (paling teknis), bukan langsung ke alat.

**2.** Manakah urutan lapisan yang benar, dari terluar ke inti?

ATeknik -> Waktu -> Strategi -> Metodologis -> Pendekatan -> Filsafat. BStrategi -> Filsafat -> Teknik -> Waktu -> Pendekatan -> Metodologis. CFilsafat -> Pendekatan -> Metodologis -> Strategi -> Waktu -> Teknik. 

**Pembahasan:** Urutan dari luar ke inti adalah Filsafat, Pendekatan pengembangan teori, Pilihan metodologis, Strategi, Cakrawala waktu, lalu Teknik & prosedur.

**3.** Seorang peneliti berangkat dari teori, menyusun hipotesis, lalu menguji dengan data. Ini pendekatan?

ADeduksi. BInduksi. CAbduksi. 

**Pembahasan:** Deduksi menguji teori (umum ke khusus). Induksi membangun teori dari data (khusus ke umum). Abduksi bolak-balik antara data dan teori.

**4.** Aliran filsafat yang paling menekankan makna dan tafsir manusia, bukan sekadar pengukuran objektif, adalah?

APositivisme. BInterpretivisme. CPositivisme dan realisme kritis, keduanya sama saja. 

**Pembahasan:** Interpretivisme menekankan bahwa manusia memberi makna, sehingga peneliti berusaha memahami sudut pandang orang. Positivisme sebaliknya condong ke pengukuran objektif.

**5.** Data diambil hanya pada satu titik waktu, seperti memotret keadaan hari ini. Cakrawala waktu ini disebut?

ALongitudinal. BEksperimental. CCross-sectional. 

**Pembahasan:** Cross-sectional adalah potret pada satu titik waktu. Longitudinal mengambil data berulang untuk melihat perubahan lintas waktu.

**6.** Penelitian sengaja menggabungkan data angka (kuesioner) dan data kata (wawancara) dalam satu studi. Pilihan metodologis ini disebut?

AMetode tunggal (mono-method). BMetode campuran (mixed methods). CEksperimen murni. 

**Pembahasan:** Menggabungkan yang kuantitatif dan kualitatif dalam satu penelitian disebut metode campuran. Bila hanya satu jenis data, itu metode tunggal.

### B. Soal Esai

**1.** Dengan bahasa sendiri, jelaskan mengapa keputusan di lapisan filsafat (lapisan terluar) bisa memengaruhi keputusan di lapisan teknik (inti).

Lihat rambu jawaban 

Jawaban yang baik menekankan keselarasan. Cara pandang kita terhadap kebenaran menentukan jenis data yang kita anggap sah. Bila kita positivis dan percaya kebenaran itu terukur, kita condong ke angka, sehingga tekniknya cenderung kuesioner dan uji statistik. Bila kita interpretivis dan percaya makna itu penting, kita condong ke kata, sehingga tekniknya cenderung wawancara dan analisis tematik. Jadi keputusan paling mendasar diam-diam menuntun keputusan paling teknis; kalau keduanya tak nyambung, rancangan menjadi timpang.

**2.** Seorang mahasiswa ingin mengetahui "seberapa besar pengaruh jam tidur terhadap nilai ujian pada 300 siswa". Turunkan rancangannya melalui enam lapisan, dan beri alasan singkat tiap lapisan.

Lihat contoh jawaban 

Ini hanya satu contoh yang masuk akal; jawaban lain bisa sah bila konsisten. (1) **Filsafat: positivisme**, karena ingin mengukur pengaruh secara objektif. (2) **Pendekatan: deduksi**, berangkat dari hipotesis "makin cukup tidur, makin tinggi nilai". (3) **Metodologis: kuantitatif tunggal**, karena datanya angka. (4) **Strategi: survei**, menjangkau 300 siswa. (5) **Waktu: cross-sectional**, potret satu periode ujian. (6) **Teknik: kuesioner** jam tidur + data nilai, dianalisis dengan korelasi atau regresi. Semua lapisan saling nyambung dari atas ke bawah.

**3.** Mengapa Saunders dan rekan menekankan bahwa Research Onion adalah "alat berpikir", bukan "resep tunggal"? Berikan satu contoh untuk mendukung jawabanmu.

Lihat rambu jawaban 

Karena pilihan di tiap lapisan bergantung pada pertanyaan penelitian, bukan pada aturan baku. Topik yang sama bisa menghasilkan onion yang berbeda bila pertanyaannya berbeda. Contoh: topik "pembayaran digital pada UMKM". Bila pertanyaannya "faktor apa yang paling memengaruhi", jalannya positivisme/deduksi/kuantitatif/survei. Bila pertanyaannya "bagaimana pengalaman batin pedagang saat beralih", jalannya interpretivisme/induksi/kualitatif/naratif. Karena itu tidak ada satu jalan yang selalu benar; yang benar adalah yang paling cocok menjawab pertanyaan.

### C. Gamifikasi

**Permainan 1 - Cocokkan Keputusan ke Lapisannya.** Klik satu keputusan di kiri, lalu klik lapisan yang tepat di kanan. Cocok = poin bertambah.

Poin: 0 | 0/6

"Saya memandang kebenaran itu tunggal dan terukur." "Saya membangun teori dari pengamatan lapangan." "Datanya berupa angka dan kata sekaligus." "Saya menyebar kuesioner ke banyak responden." "Data diambil berulang selama dua tahun." "Saya memakai wawancara lalu analisis tematik." 

Teknik & Prosedur Filsafat (Positivisme) Cakrawala Waktu (Longitudinal) Pendekatan (Induksi) Strategi (Survei) Pilihan Metodologis (Campuran) 

Pilih satu keputusan untuk mulai.

**Permainan 2 - Susun Lapisan dari Luar ke Inti.** Klik keenam lapisan sesuai urutan yang benar, dari terluar (nomor 1) sampai inti (nomor 6).

0/6

Strategi Penelitian Filsafat Penelitian Teknik & Prosedur Pilihan Metodologis Cakrawala Waktu Pendekatan Teori 

Ulangi 

Mulai dari lapisan paling luar.

### D. Latihan Mandiri

**Latihan - Rancang onion-mu sendiri.** Pilih satu topik yang kamu pedulikan. Tuliskan satu pertanyaan penelitian, lalu isi keenam lapisan untuk pertanyaan itu, masing-masing dengan satu kalimat alasan "dipilih karena...".

Lihat kerangka pengisian 

Pertanyaan penelitian: ...   
1) Filsafat: ... (dipilih karena ...)   
2) Pendekatan teori: ... (dipilih karena ...)   
3) Pilihan metodologis: ... (dipilih karena ...)   
4) Strategi: ... (dipilih karena ...)   
5) Cakrawala waktu: ... (dipilih karena ...)   
6) Teknik & prosedur: ... (dipilih karena ...).   
Bacalah ulang dari atas ke bawah. Bila tiap baris terasa nyambung dengan baris di atasnya, rancanganmu sudah runtut.

Referensi

## Referensi Jurnal & Buku Teks

**Sumber utama (asal model):**

- Saunders, M. N. K., Lewis, P., & Thornhill, A. (2023). *Research Methods for Business Students* (edisi ke-9). Harlow: Pearson Education. \- Buku ajar tempat Research Onion diperkenalkan dan terus disempurnakan; edisi mutakhir.
- Saunders, M. N. K., Lewis, P., & Thornhill, A. (2019). *Research Methods for Business Students* (edisi ke-8). Harlow: Pearson Education.
- Saunders, M. N. K., Lewis, P., & Thornhill, A. (2007). *Research Methods for Business Students* (edisi ke-4). Harlow: Prentice Hall / Pearson. \- Edisi yang memperkenalkan bentuk "onion" yang kita kenal sekarang.

**Artikel jurnal & sumber pendukung:**

- Saunders, M. N. K., & Tosey, P. (2013). The Layers of Research Design. *Rapport*, Winter 2012/2013, 58-59\. \- Uraian ringkas para penulis tentang lapisan-lapisan rancangan riset.
- Melnikovas, A. (2018). Towards an Explicit Research Methodology: Adapting Research Onion Model for Futures Studies. *Journal of Futures Studies, 23*(2), 29-44\. [https://doi.org/10.6531/JFS.201812\_23(2).0003](https://doi.org/10.6531/JFS.201812%5F23%282%29.0003?ref=juniati.com) \- Contoh adaptasi dan pembahasan kritis model onion di jurnal ilmiah.
- Bryman, A., & Bell, E. (2015). *Business Research Methods* (edisi ke-4). Oxford: Oxford University Press. \- Buku teks pelengkap untuk strategi dan metode penelitian bisnis.
- Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). *Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches* (edisi ke-5). Thousand Oaks, CA: SAGE. \- Rujukan utama untuk pendekatan dan metode campuran.
- Crotty, M. (1998). *The Foundations of Social Research: Meaning and Perspective in the Research Process*. London: SAGE. \- Rujukan klasik untuk lapisan filsafat (ontologi & epistemologi).

Catatan: rincian edisi dan tahun dapat berbeda menurut cetakan dan penerbit di tiap negara. Selalu periksa halaman kredit buku yang Anda pegang saat menuliskan daftar pustaka.

Dari keenam lapisan itu, lapisan mana yang menurut Anda paling sering dilewati orang saat menyusun penelitian? Ceritanya menarik untuk dibagikan di kolom komentar.