> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://juniati.com/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Filsafat Ilmu Pengetahuan: Panduan Belajar dengan Diagram dan Latihan
- URL: https://juniati.com/filsafat-ilmu-pengetahuan-panduan-belajar-dengan-diagram-dan-latihan/
- Published: 2026-08-24T09:14:46.000Z
- Updated: 2026-08-24T11:58:35.000Z
- Description: Tujuh pokok bahasan filsafat ilmu dibaca sebagai satu rangkaian argumen, dilengkapi sembilan diagram dan empat set latihan berkunci jawaban.
- Author: Juniati
- Tags: On Growing

Peta Filsafat Ilmu 

Filsafat Ilmu Pengetahuan  Panduan belajar mandiri

# Peta Filsafat Ilmu

Tujuh bahan kajian kurikulum, dibaca sebagai satu rangkaian argumen, dipetakan ke tiga capaian pembelajaran, dan diuji dengan latihan yang jawabannya bisa dibuka setelah dicoba sendiri.

## Isi

1. [**A**Cara membaca kurikulum](#peta)
2. [**B**Tiga kompetensi dan buktinya](#cpmk)

## Bahan kajian

1. [**1**Batas dan wewenang ilmu](#bk1)
2. [**2**Sejarah dan pertumbuhan](#bk2)
3. [**3**Perbedaan antardisiplin](#bk3)
4. [**4**Eksperimen, teori, simulasi](#bk4)
5. [**5**Etika di dalam metode](#bk5)
6. [**6**Agama dan nilai sosial](#bk6)
7. [**7**Kecerdasan buatan](#bk7)

## Uji diri

1. [**L1**Diagnostik pilihan ganda](#lat1)
2. [**L2**Esai singkat](#lat2)
3. [**L3**Studi kasus](#lat3)
4. [**L4**Audit asumsi sendiri](#lat4)
5. [**S**Persiapan pertemuan](#siap)

## Bagian A

### Cara membaca kurikulum ini

Tujuh bahan kajian dalam kurikulum tampak seperti tujuh topik yang berdiri sendiri. Sebenarnya tidak. Bila dibaca berurutan, ketujuhnya membentuk satu argumen tunggal yang bergerak dari pertanyaan paling abstrak menuju keputusan paling praktis yang harus diambil seorang peneliti.

Bahan kajian pertama menanyakan atas dasar apa suatu klaim boleh disebut ilmiah. Bahan kajian kedua memeriksa bagaimana jawaban atas pertanyaan itu berubah sepanjang sejarah. Bahan kajian ketiga menguji apakah jawaban tersebut berlaku sama untuk fisika, sosiologi, seni, dan teknik. Bahan kajian keempat menanyakan bagaimana pengetahuan diproduksi apabila ternyata caranya berbeda-beda. Bahan kajian kelima dan keenam memeriksa nilai yang terbawa dalam produksi itu, satu dari dalam metode dan satu dari luar. Bahan kajian ketujuh menempatkan seluruh rangkaian tersebut di hadapan teknologi yang sedang mengubah cara ilmu bekerja.

Memahami rangkaian ini penting karena ujian, karya tulis, dan presentasi biasanya tidak menanyakan definisi. Yang ditanyakan adalah apakah Anda dapat menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, misalnya menjelaskan mengapa kesulitan pada bahan kajian keempat merupakan bentuk baru dari persoalan yang sudah muncul pada bahan kajian pertama.

PERTANYAAN POKOK 1\. Demarkasi Apa yang membuat klaim layak diuji? 2\. Sejarah Bagaimana jawabannya berubah? 3\. Antardisiplin Apakah berlaku sama di semua bidang? 4\. Metode Bagaimana pengetahuan diproduksi? NILAI YANG TERBAWA 5\. Etika internal Nilai masuk lewat keputusan metodologis 6\. Nilai eksternal Agama, masyarakat, legitimasi pengetahuan 7\. Kecerdasan buatan Seluruh rantai di atas diuji ulang Keputusan yang harus Anda ambil Posisi paradigmatik, pilihan metode, dan alasan yang dapat dipertahankan 

**Alur argumen kurikulum.** Tiap kotak menerima persoalan dari kotak sebelumnya, bukan memulai topik baru. Seluruh rantai bermuara pada satu keputusan praktis, yaitu penetapan posisi metodologis yang koheren dengan asumsi yang Anda anut.

Cara memakai halaman ini 

Bacalah Bagian B lebih dulu supaya Anda tahu apa yang sedang dikejar, lalu tujuh bahan kajian secara berurutan. Kerjakan latihan tanpa membuka kunci jawaban. Membuka kunci sebelum menjawab menghasilkan rasa paham yang keliru, dan rasa paham itu baru ketahuan salah ketika Anda ditanya di kelas.

## Bagian B

### Tiga kompetensi dan bukti pencapaiannya

Kurikulum menetapkan tiga capaian pembelajaran. Ketiganya berbeda jenis, dan perbedaan itu menentukan cara belajar yang tepat untuk masing-masing. Capaian pertama bersifat pemahaman, capaian kedua bersifat kemampuan memecahkan persoalan, dan capaian ketiga bersifat kemampuan menilai secara kritis. Menghafal tidak akan memenuhi satu pun dari ketiganya.

| Capaian                                                                                     | Wujud nyata                                                                                                                              | Cara mencapainya                                                                                                                                                           | Diuji lewat            |
| ------------------------------------------------------------------------------------------- | ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- | -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- | ---------------------- |
| **CPMK 1**Memahami proses pengembangan ilmu dengan menjunjung etika                         | Anda dapat menceritakan mengapa suatu teori diterima atau ditinggalkan, dan menunjukkan di titik mana pertimbangan nilai ikut menentukan | Baca perdebatan demarkasi sebagai rangkaian sebab akibat, bukan daftar nama. Untuk tiap tokoh, catat satu keberatan yang ia ajukan dan satu keberatan yang diterimanya     | Ujian tertulis         |
| **CPMK 2**Memecahkan persoalan sains dan teknologi lewat riset multidisiplin dan integratif | Anda dapat menggabungkan lebih dari satu metode dalam satu rancangan penelitian dan mempertahankan gabungan itu secara filosofis         | Latih dengan mengambil satu persoalan nyata, lalu susun dua rancangan yang berangkat dari asumsi berbeda dan bandingkan apa yang masing-masing dapat dan tidak dapat klaim | Karya tulis            |
| **CPMK 3**Beradaptasi dengan teknologi baru dan menilai implikasinya secara kritis          | Anda dapat menyebutkan secara spesifik bagian mana dari praktik ilmiah yang berubah oleh kecerdasan buatan, dan bagian mana yang tidak   | Hindari dua sikap ekstrem. Latih dengan merumuskan satu manfaat konkret dan satu kerugian epistemik dari alat yang sama                                                    | Presentasi dan diskusi |

#### Menerjemahkan capaian menjadi kebiasaan belajar

Capaian pertama menuntut kemampuan bercerita secara kausal. Ujian tertulis pada bidang ini jarang meminta definisi falsifikasi. Yang lebih sering ditanyakan adalah mengapa falsifikasi diusulkan, persoalan apa yang hendak dijawabnya, dan mengapa usulan itu pada akhirnya dianggap tidak memadai. Jawaban yang baik berbentuk rangkaian sebab akibat, bukan daftar ciri.

Capaian kedua menuntut kemampuan merancang. Karya tulis akan dinilai dari koherensi antara klaim yang Anda ajukan dan asumsi yang Anda pegang. Kesalahan yang paling sering terjadi bukan pada pemilihan metode, melainkan pada ketidaksesuaian antara metode dan jenis klaim yang hendak dihasilkan.

Capaian ketiga menuntut ketepatan. Pernyataan bahwa kecerdasan buatan mengubah segalanya dan pernyataan bahwa ia hanyalah alat sama-sama tidak akan mendapat nilai baik, sebab keduanya tidak menunjuk pada apa pun secara spesifik. Yang dinilai adalah kemampuan menunjuk tahap tertentu dalam alur penelitian dan menjelaskan apa yang bergeser pada tahap itu.

Kesalahan yang mahal 

Menyamakan filsafat ilmu dengan metodologi penelitian. Metodologi menjawab pertanyaan bagaimana melakukan sesuatu. Filsafat ilmu menjawab pertanyaan atas dasar apa cara itu menghasilkan sesuatu yang layak disebut pengetahuan. Jawaban ujian yang hanya menguraikan langkah-langkah prosedur akan dinilai sebagai jawaban yang salah sasaran.

Bahan kajian 1

### Struktur, batas, dan wewenang ilmu pengetahuan

**Rumusan kurikulum**Struktur, batas dan wewenang ilmu pengetahuan, agama, teknologi, seni maupun ilmu sosial dan kemasyarakatan. Interaksi antar domain yang mempengaruhi penelitian ilmiah, termasuk kriteria demarkasi, serta pengenalan kecerdasan buatan dan dampaknya pada praktek ilmiah.

Pertanyaan yang menggerakkan bahan kajian ini sederhana dalam rumusannya dan sulit dalam jawabannya. Ketika seseorang berkata bahwa sesuatu sudah terbukti secara ilmiah, otoritas apa yang sedang ia pinjam, dan dari mana otoritas itu berasal.

Jawaban pertama yang serius datang dari Lingkaran Wina pada dekade 1920-an melalui prinsip verifikasi *(verification principle)*. Menurut prinsip ini, suatu pernyataan hanya bermakna secara kognitif apabila dapat diverifikasi melalui pengalaman inderawi. Prinsip ini runtuh karena dua sebab. Pertama, prinsip itu sendiri tidak dapat diverifikasi secara inderawi, sehingga menurut ukurannya sendiri ia tidak bermakna. Kedua, hukum universal seperti hukum gravitasi menyangkut kasus yang jumlahnya tak terbatas, sehingga verifikasi tuntas mustahil dilakukan.

Karl Popper menggeser ukurannya. Dalam *The Logic of Scientific Discovery*, ia mengusulkan bahwa yang menandai suatu teori sebagai ilmiah bukan kemungkinan membuktikannya benar, melainkan kesediaannya dinyatakan salah. Asimetri logisnya jelas. Satu angsa hitam menggugurkan pernyataan bahwa semua angsa berwarna putih, sedangkan sejuta angsa putih tidak membuktikannya. Teori yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada pengamatan apa pun yang dapat menggugurkannya berada di luar wilayah ilmu, justru karena ia tampak menjelaskan segalanya.

VERIFIKASI Semua angsa berwarna putih . . . Setiap angsa putih menambah dukungan Ruang yang belum diperiksa tetap tak terbatas Kesimpulan tidak pernah tertutup FALSIFIKASI Semua angsa berwarna putih satu angsa hitam cukup Satu pengamatan yang bertentangan Pernyataan gugur secara logis Kesimpulan tertutup seketika Konsekuensi bagi penilaian sebuah klaim Pertanyaan yang perlu diajukan bukan apakah ada bukti yang mendukung, melainkan pengamatan seperti apa yang seharusnya membuat klaim ini ditarik kembali. 

**Asimetri antara membuktikan dan menggugurkan.** Penambahan bukti pendukung tidak pernah menutup ruang kemungkinan, sedangkan satu kasus yang bertentangan menutupnya seketika. Inilah dasar logis usulan Popper.

Kekuatan gagasan Popper terletak pada ketegasannya, dan kelemahannya berada di tempat yang sama. Dalam praktik sehari-hari, tidak ada ilmuwan yang membuang teori besar hanya karena satu pengamatan menyimpang. Yang lebih sering terjadi adalah peneliti meragukan alat ukurnya, meragukan sampelnya, atau meragukan asumsi latar yang dipakainya. Perilaku ini bukan kecurangan, melainkan konsekuensi logis dari tesis Duhem dan Quine tentang holisme konfirmasi *(confirmation holism)*, yaitu bahwa hipotesis tidak pernah diuji sendirian melainkan selalu bersama sekumpulan asumsi latar.

Bagian kedua bahan kajian ini menyangkut interaksi antardomain. Ilmu bukan satu-satunya sumber klaim tentang dunia. Agama, teknologi, seni, dan pengetahuan masyarakat sama-sama mengajukan klaim, dan masing-masing memiliki tata cara pembenaran sendiri. Persoalan yang perlu dijernihkan bukan siapa yang benar, melainkan atas dasar apa suatu domain berwenang menilai klaim dari domain lain.

Istilah kunci

Kriteria demarkasi

demarcation criteria

Prinsip verifikasi

verification principle

Falsifiabilitas

falsifiability

Holisme konfirmasi

confirmation holism, Duhem and Quine thesis

Keterkurangan penentuan

underdetermination of theory by evidence

Wewenang epistemik

epistemic authority

Pertanyaan untuk dibawa ke kelas 

Bila falsifiabilitas gagal menjadi kriteria yang memadai, dan Laudan bahkan menganjurkan agar persoalan demarkasi ditinggalkan, atas dasar apa suatu badan publik memutuskan bahwa satu klaim layak dijadikan dasar kebijakan dan klaim lain tidak.

Bahan kajian 2

### Sejarah dan proses pengembangan ilmu pengetahuan

**Rumusan kurikulum**Filsafat ilmu, sejarah, dan proses pengembangan ilmu pengetahuan.

Perdebatan pada bahan kajian pertama bersifat logis. Bahan kajian ini menggesernya menjadi persoalan historis. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana seharusnya ilmu bekerja, melainkan bagaimana ilmu sesungguhnya bekerja bila riwayatnya diperiksa.

Thomas Kuhn dalam *The Structure of Scientific Revolutions* mengajukan bacaan yang mengubah bidang ini secara permanen. Menurutnya ilmu tidak tumbuh melalui penambahan bertahap. Ilmu bergerak melalui periode panjang riset normal *(normal science)* yang bekerja di dalam satu paradigma, disusul penumpukan anomali yang tidak dapat diselesaikan dari dalam, lalu krisis, lalu revolusi yang mengganti paradigma lama.

Konsep paradigma pada Kuhn jauh lebih luas daripada sekadar teori. Ia mencakup soal-soal yang dianggap layak dikerjakan, teknik yang dianggap sah, contoh pengerjaan yang dijadikan teladan, dan bahkan kriteria tentang apa yang dianggap penjelasan yang memuaskan. Karena itulah muncul tesis ketakterbandingan *(incommensurability)*, yaitu bahwa dua paradigma tidak selalu memiliki tolok ukur bersama untuk saling dinilai.

MODEL KUMULATIF Pengetahuan bertambah, kesalahan dibuang waktu satu garis, tanpa patahan MODEL KUHN Riset normal, krisis, revolusi, berulang riset normal riset normal riset normal revolusi revolusi Yang dipertaruhkan pada perbedaan kedua model Pada model kumulatif, teori lama adalah kasus khusus dari teori baru, sehingga kemajuan dapat diukur. Pada model Kuhn, teori lama dan baru dapat memakai istilah yang sama dengan makna berbeda, sehingga tidak selalu tersedia ukuran netral untuk membandingkan keduanya. Inilah tesis ketakterbandingan. Lakatos berusaha memulihkan ukuran itu lewat kriteria progresif dan merosot. 

**Dua model pertumbuhan ilmu.** Perbedaan yang menentukan bukan pada bentuk kurvanya, melainkan pada tersedia atau tidaknya ukuran netral untuk menilai kemajuan setelah terjadi patahan.

Imre Lakatos berusaha menjembatani ketegasan Popper dan realisme historis Kuhn melalui gagasan program riset ilmiah *(scientific research programme)*. Setiap program memiliki inti keras *(hard core)* berupa asumsi yang tidak digugat, dan sabuk pelindung *(protective belt)* berupa hipotesis pembantu yang boleh direvisi. Sebuah program dinilai progresif apabila revisinya melahirkan prediksi baru yang kemudian terbukti, dan dinilai merosot apabila revisi itu hanya berfungsi menambal kegagalan tanpa menghasilkan apa pun yang baru.

Kriteria Lakatos berguna secara praktis karena dapat diterapkan pada bidang mana pun, termasuk pada tinjauan pustaka Anda sendiri. Sebuah aliran teori yang selama dua puluh tahun hanya menambah variabel moderator setiap kali hasil empirisnya mengecewakan, tanpa pernah melahirkan prediksi baru, memenuhi definisi program yang merosot.

Paul Feyerabend mendorong perdebatan ke ujung yang lain. Dalam *Against Method*, ia berargumen bahwa tidak ada satu pun aturan metodologis yang bertahan dalam seluruh sejarah ilmu, dan bahwa kemajuan besar justru sering terjadi ketika aturan yang berlaku dilanggar. Larry Laudan kemudian menyimpulkan bahwa persoalan demarkasi sebaiknya ditinggalkan karena tidak pernah menghasilkan kriteria yang bertahan.

Istilah kunci

Riset normal

normal science

Anomali

anomaly

Pergeseran paradigma

paradigm shift

Ketakterbandingan

incommensurability

Inti keras dan sabuk pelindung

hard core, protective belt

Program progresif dan merosot

progressive, degenerating research programme

Bahan kajian 3

### Kesamaan dan perbedaan antara hard science, ilmu sosial, seni, dan teknologi

**Rumusan kurikulum**Kesamaan dan perbedaan dalam filsafat pengembangan keilmuan antara hard science, ilmu sosial, seni, dan teknologi, serta pertanyaan dan debat filosofis yang relevan dengan setiap disiplin ilmiah.

Perdebatan pokok di sini adalah antara naturalisme dan antinaturalisme. Pihak naturalis berpendapat bahwa ilmu sosial pada prinsipnya sama dengan ilmu alam, dan bahwa perbedaan yang tampak hanyalah perbedaan tingkat kerumitan serta keterbatasan alat ukur. Pihak antinaturalis, berakar pada Wilhelm Dilthey dan kemudian Max Weber, berpendapat bahwa objek ilmu sosial berbeda secara mendasar karena berupa tindakan yang bermakna bagi pelakunya.

Weber menawarkan jalan tengah melalui konsep *Verstehen*, yaitu pemahaman atas makna subjektif tindakan, yang menurutnya harus melengkapi dan bukan menggantikan penjelasan kausal. Peter Winch mendorong posisi ini lebih jauh dengan menyatakan bahwa memahami suatu masyarakat pada dasarnya adalah memahami aturan yang diikuti anggotanya, sehingga kegiatan itu lebih dekat pada penafsiran daripada pada eksperimen.

Teknologi sering direduksi secara keliru menjadi ilmu terapan. Walter Vincenti dalam *What Engineers Know and How They Know It* menunjukkan bahwa teknologi memiliki basis pengetahuan sendiri yang tumbuh dari praktik perancangan, dari kegagalan di lapangan, dan dari pertimbangan yang tidak dapat diturunkan dari hukum alam mana pun. Seorang perancang jembatan tidak menurunkan faktor keamanan dari fisika. Angka itu berasal dari akumulasi pengalaman kegagalan.

objek tidak bermakna bagi dirinya objek bermakna bagi dirinya tujuan: mengubah dunia tujuan: menjelaskan Hard science Hukum universal, eksperimen terkendali, keterulangan sebagai ukuran keandalan Ilmu sosial Penjelasan kausal dilengkapi pemahaman makna, konteks membatasi generalisasi Teknologi Pengetahuan perancangan, belajar dari kegagalan, ukuran keberhasilan adalah berfungsi Seni Pemahaman lewat perwujudan dan pengalaman, tidak dinilai dengan kriteria keterulangan bidang terapan Bidang seperti ilmu manajemen berdiri di persimpangan keempatnya 

**Empat watak pengetahuan pada dua sumbu.** Sumbu mendatar memisahkan objek yang tidak memaknai dirinya dari objek yang memaknai dirinya. Sumbu tegak memisahkan tujuan menjelaskan dari tujuan mengubah. Bidang terapan meminjam dari keempat kuadran sekaligus, dan karena itu paling rawan mencampuradukkan kriteria penilaian.

Kesalahan yang mahal 

Menuntut kriteria keterulangan penuh pada penelitian yang objeknya adalah organisasi tertentu dalam konteks tertentu, lalu menyimpulkan bahwa penelitian tersebut lemah. Penilaian semacam ini keliru sasaran, sebab ia menerapkan ukuran dari satu kuadran pada penelitian yang berada di kuadran lain. Kelemahan yang sesungguhnya perlu dicari pada ketidakcocokan antara klaim dan asumsi, bukan pada ketidakcocokan dengan kriteria yang tidak pernah dipakai.

Istilah kunci

Naturalisme dan antinaturalisme

naturalism, anti-naturalism

Pemahaman makna

Verstehen, interpretive understanding

Menjelaskan dan memahami

Erklären und Verstehen

Pengetahuan perancangan

engineering design knowledge

Netralitas nilai

Wertfreiheit, value freedom

Bahan kajian 4

### Metode berbasis eksperimen, teori, dan simulasi

**Rumusan kurikulum**Metoda pengembangan ilmu pengetahuan berbasis eksperimen, teori ataupun simulasi atau berbasis teknologi, termasuk kecerdasan buatan.

Selama berabad-abad, ilmu dipahami bergerak di antara dua kutub, yaitu penalaran teoretis dan pengujian empiris. Kehadiran simulasi komputer menimbulkan pertanyaan yang belum selesai, yaitu apakah simulasi sekadar alat hitung yang mempercepat pekerjaan lama, ataukah cara memproduksi pengetahuan yang berdiri sendiri dengan tata pembenaran tersendiri.

Eric Winsberg dalam *Science in the Age of Computer Simulation* berargumen bahwa simulasi memiliki epistemologi tersendiri. Alasannya, pembenaran hasil simulasi tidak sepenuhnya dapat diturunkan dari teori yang mendasarinya, karena di dalamnya terdapat banyak keputusan yang tidak berasal dari teori, seperti penetapan diskretisasi, parameterisasi proses yang tidak terwakili, dan kalibrasi. Sekaligus, hasil itu juga tidak sepenuhnya diuji terhadap data, karena justru sering dipakai pada wilayah tempat data tidak tersedia.

Paul Humphreys menambahkan konsep keburaman epistemik *(epistemic opacity)*, yaitu keadaan ketika tidak ada manusia yang dapat menelusuri seluruh langkah yang menghubungkan asumsi awal dengan keluaran akhir. Joshua Epstein merumuskan kriteria yang lebih tegas untuk permodelan berbasis agen melalui gagasan penjelasan generatif, yang menuntut bahwa memahami suatu pola makro berarti mampu menumbuhkannya dari interaksi pada tingkat mikro. Rumusannya yang terkenal berbunyi bahwa bila Anda tidak menumbuhkannya, Anda belum menjelaskannya.

Teori Pembenaran dari koherensi dan deduksi Eksperimen Pembenaran dari kendali dan keterulangan Simulasi Meminjam dari kedua sisi, tetapi tidak sepenuhnya dibenarkan oleh salah satunya persamaan dasar kalibrasi dan validasi Keputusan tanpa sumber Diskretisasi, parameterisasi, penetapan batas sistem Inilah yang harus Anda pertanggungjawabkan Bila lapisan ini tidak dijelaskan, model Anda tidak dapat dinilai 

**Dari mana simulasi memperoleh pembenarannya.** Lapisan bergaris putus adalah bagian yang paling sering luput dari bab metodologi, padahal justru di sanalah letak keputusan yang tidak dapat diturunkan dari teori maupun data.

Ketiga posisi ini langsung terpakai apabila penelitian Anda menggabungkan lebih dari satu pendekatan sistem, dan penggabungan semacam itu memang yang dituju oleh capaian pembelajaran kedua. Persoalannya adalah tiap pendekatan membawa komitmen ontologis yang berlainan.

| Pendekatan                   | Asumsi tentang realitas                                                                | Apa yang dihasilkan                                 | Klaim yang tidak boleh diajukan                                     |
| ---------------------------- | -------------------------------------------------------------------------------------- | --------------------------------------------------- | ------------------------------------------------------------------- |
| **Soft Systems Methodology** | Situasi masalah tidak terstruktur karena para pemangku kepentingan memaknainya berbeda | Pembelajaran yang terakomodasi di antara para pihak | Bahwa model konseptualnya menggambarkan sistem yang benar-benar ada |
| **System dynamics**          | Perilaku sistem ditentukan struktur umpan balik yang nyata dan dapat direpresentasikan | Penjelasan atas pola perilaku sepanjang waktu       | Bahwa keluaran angkanya merupakan ramalan titik                     |
| **Agent-based modelling**    | Pola makro muncul dari interaksi antaraktor pada tingkat mikro                         | Demonstrasi kecukupan generatif suatu mekanisme     | Bahwa satu jalur pertumbuhan membuktikan mekanisme itu satu-satunya |

Menggabungkan ketiganya bukan hal terlarang, tetapi menuntut argumen eksplisit. Bentuk argumen yang paling dapat dipertahankan adalah menempatkan setiap pendekatan pada tahap yang berbeda dan menyatakan secara terbuka bahwa masing-masing menjawab pertanyaan yang berlainan. Yang tidak dapat dipertahankan adalah memakai ketiganya seolah-olah semuanya menjawab pertanyaan yang sama dengan cara yang berbeda.

Istilah kunci

Keburaman epistemik

epistemic opacity

Kecukupan generatif

generative sufficiency

Verifikasi dan validasi model

model verification and validation

Parameterisasi

parameterisation

Pluralisme metodologis

methodological pluralism, multimethodology

Bahan kajian 5

### Etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

**Rumusan kurikulum**Etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bahan kajian ini paling sering disalahpahami sebagai pembahasan tentang plagiarisme dan lembar persetujuan responden. Keduanya memang termasuk, tetapi keduanya bukan intinya. Inti bahan kajian ini adalah pertanyaan apakah ilmu dapat bebas nilai, dan jawabannya menyangkut struktur metode itu sendiri.

Robert Merton pada 1942 merumuskan seperangkat norma yang menurutnya membentuk struktur moral kelembagaan ilmu. Norma-norma itu adalah universalisme, yaitu klaim dinilai atas isinya dan bukan atas identitas pengusulnya. Kemudian komunalisme, yaitu hasil menjadi milik bersama dan karenanya harus dipublikasikan. Lalu ketidakberpihakan, yaitu peneliti tidak boleh mengarahkan hasil demi kepentingan pribadi. Terakhir skeptisisme yang terorganisasi, yaitu setiap klaim harus menjalani pemeriksaan komunitas sebelum diterima. Empat norma ini bukan anjuran moral belaka. Keempatnya adalah syarat teknis agar mekanisme koreksi di dalam ilmu dapat bekerja.

Argumen yang lebih tajam datang dari Richard Rudner pada 1953 melalui gagasan risiko induktif *(inductive risk)*, yang kemudian dikembangkan Heather Douglas. Karena tidak ada hipotesis yang pernah terbukti secara mutlak, peneliti selalu harus memutuskan pada tingkat kepastian berapa suatu klaim layak diterima. Keputusan itu bergantung pada seberapa buruk akibat kesalahan, dan penilaian tentang seberapa buruk suatu akibat tidak dapat dijawab oleh data.

DI MANA NILAI MASUK KE DALAM METODE Data terkumpul Bukti tidak pernah tuntas Penetapan ambang bukti Seberapa yakin baru cukup? Data tidak menjawab ini Klaim diterbitkan atau ditahan Ambang terlalu longgar Menyatakan ada efek padahal tidak Akibat: kebijakan dibuat atas dasar temuan yang tidak nyata Ambang terlalu ketat Menyatakan tidak ada efek padahal ada Akibat: bahaya nyata dibiarkan karena buktinya dianggap belum cukup Kesimpulan Rudner dan Douglas Memilih mana yang lebih buruk di antara dua kesalahan itu adalah penilaian nilai, bukan penilaian empiris. Karena itu cita-cita ilmu yang bebas nilai tidak dapat dipertahankan bahkan pada tingkat metodologis. 

**Risiko induktif.** Nilai tidak menyusup dari luar ke dalam ilmu. Ia sudah berada di dalam keputusan metodologis yang paling teknis sekalipun, yaitu penetapan tingkat kepastian yang dianggap memadai.

Kesimpulan Douglas bukan bahwa objektivitas mustahil. Kesimpulannya adalah bahwa objektivitas harus diletakkan pada tempat yang berbeda. Peneliti yang objektif bukan peneliti yang bebas nilai, melainkan peneliti yang menyatakan nilainya secara terbuka sehingga dapat diperiksa orang lain. Dalam praktik penulisan, ini berarti bab metodologi Anda perlu menjelaskan mengapa batas sistem ditetapkan di titik tertentu, mengapa horizon waktu dipilih sekian tahun, dan siapa yang kepentingannya masuk atau tidak masuk hitungan.

Penerapan langsung 

Dalam penelitian yang bersinggungan dengan kebijakan publik, pemilihan variabel, penetapan batas sistem, dan penentuan horizon waktu semuanya membawa muatan nilai. Model yang menghitung manfaat ekonomi selama sepuluh tahun tetapi mengabaikan dampak lingkungan yang muncul pada tahun kedua puluh bukan model yang netral. Ia model yang sudah memutuskan bahwa kepentingan tertentu tidak masuk hitungan. Menyembunyikan keputusan itu di balik bahasa teknis bukan netralitas, melainkan pengalihan tanggung jawab.

Istilah kunci

Norma Merton

CUDOS norms, ethos of science

Risiko induktif

inductive risk

Cita-cita bebas nilai

value-free ideal

Nilai epistemik dan non-epistemik

epistemic and non-epistemic values

Objektivitas prosedural

procedural objectivity

Bahan kajian 6

### Rambu-rambu keilmuan dalam kaitannya dengan agama dan nilai kemasyarakatan

**Rumusan kurikulum**Rambu-rambu dan batasan dalam pengembangan keilmuan dalam kaitannya dengan agama serta nilai-nilai kemasyarakatan.

Bahan kajian sebelumnya memeriksa nilai yang bekerja dari dalam metode. Bahan kajian ini memeriksa nilai yang datang dari luar komunitas ilmiah, yaitu dari agama dan dari masyarakat tempat penelitian itu berlangsung.

Stephen Jay Gould mengusulkan gagasan magisteria yang tidak bertumpang tindih *(non-overlapping magisteria)*, yaitu pembagian wilayah tempat ilmu menangani pertanyaan tentang fakta dan mekanisme, sementara agama menangani pertanyaan tentang makna dan nilai. Usulan ini menuai kritik dari kedua arah karena terlalu rapi. Pada praktiknya kedua wilayah bersinggungan justru pada persoalan yang paling menentukan, seperti penentuan batas awal kehidupan, penilaian tentang teknologi mana yang layak dikembangkan, atau pertanyaan tentang siapa yang berhak atas manfaat suatu sumber daya.

Ian Barbour menawarkan pemetaan yang lebih berguna dengan membedakan empat pola hubungan, yaitu konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Nilai pemetaan ini bukan pada penentuan mana yang benar, melainkan pada kemampuannya membuat Anda mengenali pola mana yang sedang Anda gunakan tanpa sadar ketika membahas suatu persoalan.

Konflik Satu wilayah harus mengalahkan yang lain Independensi Wilayah dipisah rapi, tidak saling menilai Dialog Bertukar pertanyaan pada batas yang sama Integrasi Satu kerangka menampung keduanya sekaligus Pertanyaan yang sesungguhnya diperdebatkan Bukan siapa yang benar, melainkan atas dasar apa suatu sistem pengetahuan berwenang menilai klaim dari sistem lain, dan siapa yang menetapkan kriteria penilaian itu. Ini persoalan legitimasi, bukan persoalan batas wilayah. 

**Empat pola hubungan menurut Barbour.** Setiap pola menghasilkan konsekuensi praktis yang berbeda ketika suatu klaim harus dijadikan dasar keputusan publik. Pola independensi, misalnya, tidak menyediakan cara apa pun untuk menyelesaikan perselisihan pada wilayah yang bertumpang tindih.

Cara yang lebih produktif adalah membaca persoalan ini sebagai persoalan legitimasi pengetahuan. Pengetahuan masyarakat adat mengenai pengelolaan lahan, misalnya, tidak dihasilkan melalui prosedur yang diakui jurnal internasional, tetapi memuat klaim empiris yang dapat diuji dan sering terbukti bertahan lebih lama daripada intervensi teknokratis. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah dengan kriteria apa pengetahuan semacam itu dinilai, dan siapa yang berwenang menetapkan kriterianya. Pertanyaan ini adalah lanjutan langsung dari persoalan demarkasi pada bahan kajian pertama.

Istilah kunci

Magisteria yang tidak bertumpang tindih

non-overlapping magisteria, NOMA

Ketidakadilan epistemik

epistemic injustice

Pengetahuan lokal dan adat

indigenous and local knowledge

Legitimasi pengetahuan

epistemic legitimacy

Ilmu pascanormal

post-normal science

Bahan kajian 7

### Filsafat sains dan kecerdasan buatan

**Rumusan kurikulum**Filsafat sains dan artificial intelligence, perkembangan teknologi AI dalam memengaruhi praktik dan metodologi ilmiah tradisional serta implikasi filosofis dan etisnya.

Bahan kajian ini adalah yang paling cepat berubah, dan karena itu paling menuntut kehati-hatian. Perdebatannya tidak terletak pada apakah kecerdasan buatan berguna. Kegunaannya sudah terbukti pada persoalan yang selama puluhan tahun tidak terpecahkan, seperti prediksi struktur protein yang dilaporkan tim AlphaFold di jurnal *Nature* pada 2021\. Perdebatannya terletak pada apa yang terjadi terhadap pengertian pemahaman ilmiah ketika hasil yang benar dapat diperoleh tanpa penjelasan yang dapat ditelusuri manusia.

Perbedaan pokoknya dapat dilihat dengan membandingkan dua bentuk ketergantungan. Seorang peneliti yang mempercayai pembacaan spektrometer tetap dapat, secara prinsip, menelusuri rantai sebab akibat yang menghubungkan objek dengan angka yang tertera. Rantai semacam itu tidak tersedia pada model dengan miliaran parameter.

INSTRUMEN KONVENSIONAL Objek Teori alat dapat dibaca Kalibrasi dapat diperiksa Angka rantai utuh MODEL PEMBELAJARAN MENDALAM Data latih Miliaran parameter tidak ada manusia yang dapat menelusuri langkahnya Hasil benar rantai terputus di tengah Pertanyaan yang terbuka Apakah prediksi yang andal tanpa penjelasan yang dapat ditelusuri memenuhi syarat sebagai pemahaman ilmiah? 

**Dua bentuk ketergantungan epistemik.** Perbedaannya bukan pada tingkat kerumitan, melainkan pada ada atau tidaknya rantai pembenaran yang secara prinsip dapat ditelusuri. Inilah yang disebut Humphreys sebagai keburaman epistemik.

Lisa Messeri dan Molly Crockett dalam *Nature* pada 2024 mengajukan peringatan yang lebih halus daripada kekhawatiran umum tentang kesalahan mesin. Menurut mereka, pemanfaatan kecerdasan buatan secara luas berisiko menciptakan ilusi pemahaman, yaitu keadaan ketika komunitas ilmiah memproduksi lebih banyak hasil sekaligus memahami lebih sedikit. Risiko keduanya adalah penyempitan keragaman pendekatan, sebab ketika semua peneliti memakai perkakas yang sama, pertanyaan yang tidak cocok dengan perkakas itu perlahan berhenti diajukan.

Mario Krenn dan Heather Champion dalam *Dædalus* mengusulkan agar filsafat ilmu berhadapan langsung dengan prospek ilmuwan artifisial melalui serangkaian pertanyaan mengenai apa yang dimaksud dengan pemahaman, keingintahuan, kebaruan, dan kreativitas apabila konsep-konsep itu harus dioperasionalkan pada mesin.

Cara menjawab pertanyaan tentang AI dengan baik 

Hindari dua jawaban yang sama-sama lemah, yaitu bahwa AI mengubah segalanya, dan bahwa AI hanyalah alat seperti kalkulator. Jawaban yang kuat menunjuk tahap tertentu dalam alur penelitian, lalu menjelaskan apa yang bergeser pada tahap itu. Sebagai contoh, pada tahap penelusuran pustaka bergeser risiko keterlacakan sumber. Pada tahap pengodean data kualitatif bergeser persoalan siapa yang bertanggung jawab atas penafsiran. Pada tahap perumusan hipotesis bergeser persoalan apakah kebaruan masih dapat diklaim sebagai kontribusi peneliti.

Istilah kunci

Ilusi pemahaman

illusions of understanding

Ketergantungan epistemik

epistemic dependence

Penyempitan monokultur riset

scientific monoculture

Kotak hitam

black box, opacity

Penemuan otomatis

automated scientific discovery

Latihan 1

### Diagnostik pilihan ganda

Kerjakan seluruh sepuluh soal berikut sebelum membuka satu pun kunci jawaban. Soal-soal ini sengaja menyediakan pengecoh yang terdengar benar, karena begitulah bentuk kekeliruan yang paling sering muncul pada jawaban ujian.

Soal 1 

Sebuah teori kepemimpinan menyatakan bahwa pemimpin efektif selalu menyesuaikan gayanya dengan situasi. Ketika ditemukan pemimpin sukses yang gayanya kaku, pendukung teori menjawab bahwa kekakuan itu ternyata sesuai dengan situasi tersebut. Menurut kriteria Popper, masalah utama teori ini adalah:

1. Datanya tidak cukup banyak
2. Tidak ada keadaan yang mungkin terjadi yang dapat menggugurkannya
3. Tidak menggunakan metode kuantitatif
4. Belum diuji di berbagai negara

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: b.** Persoalannya bukan jumlah data melainkan struktur logis teorinya. Karena setiap kemungkinan hasil dapat diserap sebagai pembenaran, teori tersebut tidak melarang apa pun terjadi. Teori yang tidak melarang apa pun tidak memberi informasi apa pun tentang dunia, dan menurut Popper berada di luar wilayah ilmu meskipun ia terdengar menjelaskan segalanya. Pilihan a, c, dan d menyangkut kecukupan bukti dan pilihan teknik, bukan menyangkut demarkasi.

Soal 2 

Hasil eksperimen tidak sesuai prediksi teori. Peneliti menyimpulkan bahwa sensor pengukur kemungkinan terganggu suhu ruangan. Perilaku ini paling tepat dijelaskan oleh:

1. Tesis Duhem dan Quine tentang holisme konfirmasi
2. Tesis ketakterbandingan Kuhn
3. Prinsip verifikasi Lingkaran Wina
4. Norma universalisme Merton

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: a.** Hipotesis tidak pernah diuji sendirian, melainkan bersama sekumpulan asumsi latar yang mencakup keandalan alat ukur, kebenaran teori instrumen, dan kondisi lingkungan. Ketika hasil mengecewakan, logika tidak menentukan bagian mana yang harus disalahkan. Peneliti memiliki pilihan, dan data tidak menutup pilihan itu. Perhatikan bahwa langkah ini sah secara logis, sehingga pertanyaan yang tersisa bersifat metodologis, yaitu sampai kapan penyelamatan semacam itu masih dapat dibenarkan. Di titik inilah kriteria progresif dan merosot dari Lakatos menjadi berguna.

Soal 3 

Manakah pernyataan yang paling tepat menggambarkan konsep paradigma pada Kuhn?

1. Sinonim dari teori yang sedang dominan
2. Metode penelitian yang disepakati suatu bidang
3. Keseluruhan yang mencakup soal yang dianggap layak dikerjakan, teknik yang sah, contoh teladan, dan kriteria penjelasan yang memuaskan
4. Kerangka konseptual yang dipilih peneliti pada bab dua disertasinya

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: c.** Menyamakan paradigma dengan teori adalah kesalahan yang paling sering muncul. Paradigma pada Kuhn mencakup dimensi sosiologis dan pedagogis, bukan hanya isi teoretis. Karena mencakup kriteria tentang apa yang dianggap penjelasan yang memuaskan, dua paradigma dapat menilai bukti yang sama secara berbeda. Dari sinilah tesis ketakterbandingan memperoleh dasarnya. Pilihan d menggambarkan pemakaian istilah paradigma dalam metodologi penelitian, yang maknanya lebih sempit daripada pemakaian Kuhn.

Soal 4 

Sebuah aliran teori selama dua dekade terus menambahkan variabel moderator setiap kali hasil empirisnya tidak sesuai, tanpa pernah menghasilkan prediksi baru yang kemudian terbukti. Menurut Lakatos, aliran ini:

1. Telah difalsifikasi dan harus ditinggalkan
2. Merupakan program riset yang merosot
3. Mengalami pergeseran paradigma
4. Melanggar norma komunalisme

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: b.** Lakatos tidak menuntut pembuangan teori pada kegagalan pertama, karena ia menerima bahwa sabuk pelindung memang dirancang untuk direvisi. Yang ia tuntut adalah revisi tersebut menghasilkan sesuatu yang baru. Program yang revisinya hanya menambal kegagalan tanpa melahirkan prediksi baru disebut merosot. Pilihan a keliru karena falsifikasi tunggal bukan mekanisme penilaian pada kerangka Lakatos. Kriteria ini sangat berguna untuk menilai bidang teori dalam tinjauan pustaka Anda sendiri.

Soal 5 

Menurut Winsberg, alasan simulasi komputer memiliki epistemologi tersendiri adalah:

1. Simulasi memerlukan komputer berkinerja tinggi
2. Pembenaran hasilnya tidak sepenuhnya diturunkan dari teori dan tidak sepenuhnya diuji terhadap data
3. Simulasi selalu menghasilkan angka yang lebih presisi daripada eksperimen
4. Simulasi menggantikan kebutuhan akan teori

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: b.** Di dalam simulasi terdapat lapisan keputusan yang tidak berasal dari teori maupun dari data, misalnya pemilihan skema diskretisasi, parameterisasi proses yang tidak terwakili secara eksplisit, dan penetapan batas sistem. Lapisan inilah yang menjadikan pembenaran simulasi berbeda jenis. Konsekuensi praktisnya, bab metodologi yang hanya menyebutkan perangkat lunak yang dipakai belum mempertanggungjawabkan apa pun yang bersifat epistemik.

Soal 6 

Argumen risiko induktif dari Rudner dan Douglas menyimpulkan bahwa:

1. Peneliti sebaiknya menghindari topik yang bermuatan politik
2. Nilai hanya masuk pada tahap pemilihan topik dan penerapan hasil
3. Penilaian nilai sudah bekerja pada keputusan metodologis, yaitu pada penetapan tingkat kepastian yang dianggap memadai
4. Objektivitas ilmiah adalah mitos yang harus ditinggalkan

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: c.** Pilihan b menggambarkan pandangan konvensional yang justru dibantah oleh argumen ini. Pilihan d terlalu jauh, sebab Douglas tidak menyimpulkan bahwa objektivitas mustahil, melainkan bahwa objektivitas harus diletakkan pada keterbukaan atas nilai yang dipakai, bukan pada ketiadaan nilai. Inti argumennya, karena tidak ada bukti yang pernah tuntas, peneliti harus memutuskan seberapa yakin baru cukup, dan keputusan itu bergantung pada penilaian tentang akibat kesalahan.

Soal 7 

Sebuah penelitian menyatakan berlandaskan paradigma interpretif, tetapi pada bab kesimpulan mengajukan bahwa temuannya berlaku untuk seluruh perusahaan sejenis di Indonesia. Kelemahan utamanya adalah:

1. Ukuran sampelnya kurang besar
2. Klaim yang diajukan tidak konsisten dengan asumsi yang dinyatakannya sendiri
3. Tidak menggunakan uji statistik
4. Tidak melakukan triangulasi

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: b.** Pilihan a dan c terdengar masuk akal tetapi keliru sasaran, sebab keduanya menerapkan kriteria dari paradigma positivis pada penelitian yang menyatakan diri interpretif. Kelemahan yang sesungguhnya bersifat internal, yaitu penelitian tersebut mengajukan klaim generalisasi statistik padahal asumsi yang dipakainya menyatakan bahwa realitas sosial dikonstruksi dalam konteks tertentu. Bentuk generalisasi yang tersedia bagi paradigma interpretif adalah generalisasi analitis atau teoretis, bukan generalisasi ke populasi.

Soal 8 

Konsep keburaman epistemik dari Humphreys paling tepat digambarkan oleh keadaan berikut:

1. Peneliti tidak memahami bahasa pemrograman yang dipakai
2. Model terlalu rumit sehingga memerlukan waktu lama untuk dijalankan
3. Tidak ada manusia yang secara prinsip dapat menelusuri seluruh langkah yang menghubungkan asumsi awal dengan keluaran akhir
4. Kode sumber model tidak dipublikasikan oleh pemiliknya

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: c.** Perhatikan frasa secara prinsip. Pilihan a adalah keterbatasan peneliti yang dapat diatasi dengan belajar. Pilihan d adalah keburaman yang bersifat hukum dan komersial, bukan epistemik, dan dapat diatasi dengan membuka kode. Keburaman epistemik bertahan meskipun kode terbuka dan peneliti sangat kompeten, karena jumlah langkah komputasinya melampaui kemampuan penelusuran manusia. Inilah yang membedakannya dari ketidaktahuan biasa.

Soal 9 

Peringatan Messeri dan Crockett tentang ilusi pemahaman terutama menyoroti risiko bahwa:

1. Model kecerdasan buatan sering menghasilkan jawaban yang salah
2. Komunitas ilmiah memproduksi lebih banyak hasil sekaligus memahami lebih sedikit, dan keragaman pendekatan menyempit
3. Peneliti kehilangan pekerjaan karena digantikan mesin
4. Data pribadi responden bocor melalui model bahasa

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: b.** Peringatan mereka lebih halus daripada kekhawatiran tentang kesalahan mesin. Justru ketika model bekerja dengan sangat baik, risikonya muncul, sebab keluaran yang benar dapat menghasilkan rasa paham yang tidak disertai pemahaman atas mekanismenya. Risiko keduanya bersifat kelembagaan, yaitu ketika seluruh komunitas memakai perkakas yang sama, pertanyaan yang tidak cocok dengan perkakas itu perlahan berhenti diajukan, sehingga keragaman pendekatan menyempit.

Soal 10 

Perbedaan pokok antara Soft Systems Methodology dan system dynamics terletak pada:

1. Perangkat lunak yang digunakan
2. Asumsi tentang apakah struktur sistem merupakan sesuatu yang nyata atau merupakan konstruksi para pemangku kepentingan
3. Jumlah variabel yang dapat ditangani
4. Tingkat kesulitan penerapannya

Buka kunci dan pembahasan

**Jawaban: b.** Perbedaannya bersifat ontologis, bukan teknis. System dynamics berangkat dari asumsi bahwa struktur umpan balik yang menghasilkan perilaku sistem memang ada dan dapat direpresentasikan. Soft Systems Methodology tidak mengklaim demikian, sebab model konseptualnya adalah alat untuk memperdebatkan situasi, bukan gambaran atas sistem yang nyata. Ketika keduanya digabungkan tanpa penjelasan, penelitian menjadi rawan mengajukan klaim yang tidak didukung asumsinya sendiri.

Latihan 2

### Esai singkat

Jawablah masing-masing dalam tiga sampai lima kalimat, dalam bentuk rangkaian sebab akibat. Inilah bentuk jawaban yang dituntut ujian tertulis pada bidang ini.

Esai 1 

Jelaskan mengapa prinsip verifikasi runtuh, dan mengapa Popper menganggap falsifikasi sebagai jalan keluar.

Buka jawaban model

Prinsip verifikasi menyatakan bahwa suatu pernyataan bermakna hanya bila dapat diverifikasi melalui pengalaman inderawi. Prinsip ini runtuh oleh dua keberatan. Pertama, prinsip itu sendiri bukan pernyataan yang dapat diverifikasi secara inderawi, sehingga menurut ukurannya sendiri ia tidak bermakna. Kedua, hukum universal menyangkut kasus yang jumlahnya tak terbatas, sehingga verifikasi tuntas mustahil. Popper melihat bahwa persoalan ini berakar pada asimetri logis antara membuktikan dan menggugurkan, sebab pernyataan universal tidak pernah dapat dibuktikan oleh berapa pun banyaknya kasus pendukung, tetapi dapat digugurkan oleh satu kasus yang bertentangan. Karena itu ia mengalihkan ukuran demarkasi dari kemampuan dibuktikan menjadi kesediaan digugurkan.

Esai 2 

Mengapa tesis Duhem dan Quine melemahkan falsifikasi Popper dalam praktik?

Buka jawaban model

Falsifikasi mengandaikan bahwa hasil yang bertentangan menunjuk secara pasti pada hipotesis yang diuji. Duhem dan Quine menunjukkan bahwa pengandaian itu keliru, sebab suatu hipotesis selalu diuji bersama sekumpulan asumsi latar yang mencakup teori instrumen, kondisi lingkungan, dan asumsi tentang sampel. Ketika hasilnya mengecewakan, logika hanya memberitahu bahwa ada sesuatu dalam gabungan tersebut yang keliru, tetapi tidak memberitahu bagian mana. Akibatnya peneliti selalu dapat menyelamatkan hipotesis utama dengan merevisi asumsi latar, dan langkah itu sah secara logis. Falsifikasi karena itu tidak pernah bersifat menentukan secara logis, dan penilaian harus bergeser menjadi penilaian metodologis tentang sampai kapan penyelamatan masih dapat dibenarkan.

Esai 3 

Apa yang dimaksud ketakterbandingan, dan mengapa ia dianggap mengganggu?

Buka jawaban model

Ketakterbandingan adalah tesis bahwa dua paradigma tidak selalu memiliki tolok ukur bersama untuk saling dinilai. Sebabnya, paradigma pada Kuhn tidak hanya memuat teori tetapi juga kriteria tentang apa yang dianggap penjelasan yang memuaskan, soal apa yang layak dikerjakan, dan makna istilah teknis yang dipakai. Ketika paradigma berganti, istilah yang sama dapat berubah maknanya, sehingga bukti yang sama dapat dinilai berbeda. Tesis ini mengganggu karena mengancam gagasan kemajuan ilmu sebagai pendekatan bertahap menuju kebenaran, dan membuka pertanyaan apakah perpindahan paradigma dapat disebut rasional atau lebih menyerupai peralihan keyakinan komunitas.

Esai 4 

Mengapa teknologi tidak tepat disebut sekadar ilmu terapan?

Buka jawaban model

Sebutan ilmu terapan mengandaikan bahwa pengetahuan teknologi diturunkan dari hukum alam melalui penerapan. Vincenti menunjukkan bahwa sebagian besar pengetahuan yang dipakai insinyur tidak berasal dari sana. Faktor keamanan, kriteria kualitas penanganan pesawat, dan aturan praktis perancangan tumbuh dari akumulasi pengalaman kegagalan di lapangan dan dari pertimbangan yang tidak dapat dideduksi dari teori mana pun. Ukuran keberhasilannya pun berbeda, sebab teknologi dinilai dari apakah rancangan berfungsi dalam kondisi nyata, bukan dari apakah suatu pernyataan benar. Karena itu teknologi memiliki basis pengetahuan sendiri yang berdiri sejajar, bukan turunan.

Esai 5 

Jelaskan mengapa cita-cita ilmu bebas nilai tidak dapat dipertahankan, dan apa penggantinya.

Buka jawaban model

Karena tidak ada hipotesis yang pernah terbukti secara mutlak, peneliti selalu harus memutuskan pada tingkat kepastian berapa suatu klaim layak diterima. Keputusan itu bergantung pada penilaian tentang mana yang lebih buruk di antara dua kesalahan, yaitu menyatakan ada efek padahal tidak ada, atau menyatakan tidak ada efek padahal ada. Penilaian tentang seberapa buruk suatu akibat tidak dapat dijawab oleh data karena menyangkut nilai. Karena keputusan semacam ini melekat pada metode, nilai tidak dapat dikeluarkan dari ilmu. Penggantinya bukan penyerahan pada subjektivitas, melainkan objektivitas yang diletakkan pada keterbukaan, yaitu peneliti menyatakan nilai yang dipakainya sehingga dapat diperiksa dan diperdebatkan orang lain.

Esai 6 

Apa yang berubah dalam praktik ilmiah ketika model yang buram menghasilkan prediksi yang andal?

Buka jawaban model

Yang berubah adalah hubungan antara keandalan dan pemahaman, yang selama ini diandaikan berjalan beriringan. Pada instrumen konvensional, kepercayaan terhadap hasil bersandar pada rantai pembenaran yang secara prinsip dapat ditelusuri, mulai dari teori alat sampai kalibrasi. Pada model dengan miliaran parameter, rantai itu terputus karena jumlah langkahnya melampaui kemampuan penelusuran manusia. Akibatnya peneliti dapat memperoleh prediksi yang benar tanpa mengetahui mengapa prediksi itu benar. Persoalan yang terbuka adalah apakah keadaan semacam itu masih memenuhi syarat sebagai pemahaman ilmiah, atau merupakan bentuk ketergantungan epistemik yang berbeda jenis dan menuntut tata pembenaran baru.

Esai 7 

Mengapa persoalan hubungan ilmu dan agama lebih tepat dibaca sebagai persoalan legitimasi daripada persoalan batas wilayah?

Buka jawaban model

Pembagian wilayah seperti yang diusulkan Gould mengandaikan bahwa pertanyaan tentang fakta dan pertanyaan tentang nilai dapat dipisahkan secara rapi. Pengandaian itu gagal pada persoalan yang paling menentukan, misalnya penentuan batas awal kehidupan atau penilaian tentang teknologi mana yang layak dikembangkan, sebab pada persoalan semacam itu klaim faktual dan klaim nilai saling terkait. Yang sesungguhnya diperdebatkan pada kasus tersebut bukan di mana batas wilayah masing-masing, melainkan atas dasar apa suatu sistem pengetahuan berwenang menilai klaim dari sistem lain dan siapa yang menetapkan kriteria penilaiannya. Pembacaan sebagai persoalan legitimasi juga langsung berguna untuk kasus pengetahuan masyarakat adat, yang memuat klaim empiris yang dapat diuji tetapi tidak dihasilkan melalui prosedur yang diakui secara akademik.

Esai 8 

Anda menggabungkan pendekatan interpretif dan pendekatan berbasis model dalam satu penelitian. Bagaimana Anda mempertahankan gabungan itu secara filosofis?

Buka jawaban model

Pertahanan yang paling kuat adalah menyatakan secara eksplisit bahwa kedua pendekatan menjawab pertanyaan yang berlainan dan menghasilkan jenis klaim yang berlainan, lalu menempatkan keduanya pada tahap yang berbeda dalam satu rancangan. Pendekatan interpretif dipakai untuk menetapkan apa yang dianggap sebagai persoalan oleh para pihak dan variabel apa yang bermakna bagi mereka, dan menghasilkan klaim tentang makna dalam konteks. Pendekatan berbasis model dipakai untuk menguji konsekuensi struktural dari hubungan yang telah teridentifikasi, dan menghasilkan klaim tentang pola perilaku yang mungkin terjadi. Realisme kritis sering dipilih sebagai landasan karena menerima adanya mekanisme yang nyata sekaligus mengakui bahwa akses kita terhadapnya selalu tidak langsung dan dapat keliru. Yang harus dihindari adalah memakai kedua pendekatan seolah keduanya menjawab pertanyaan yang sama, sebab dalam hal itu keduanya akan saling meniadakan.

Latihan 3

### Studi kasus

Kasus 1 

**Model yang terlalu meyakinkan.** Sebuah tim menyusun model simulasi untuk memperkirakan dampak ekonomi kebijakan industri selama sepuluh tahun ke depan. Model memuat empat puluh variabel dan dijalankan pada seribu skenario. Hasilnya berupa satu angka dampak dengan selang keyakinan yang sempit. Tim menyampaikan bahwa hasil ini objektif karena murni berasal dari perhitungan.

Identifikasi tiga persoalan filosofis pada klaim tersebut, dan sebutkan apa yang seharusnya dinyatakan tim dalam laporannya.

Buka pembahasan

**Persoalan pertama, keputusan yang tidak berasal dari teori maupun data.** Mengikuti Winsberg, penetapan batas sistem, pemilihan empat puluh variabel dari sekian banyak kemungkinan, dan parameterisasi hubungan yang tidak terukur semuanya merupakan keputusan yang tidak diturunkan dari teori dan tidak diuji terhadap data. Selang keyakinan yang sempit hanya mencerminkan ketidakpastian parameter di dalam struktur model, dan sama sekali tidak mencerminkan ketidakpastian atas struktur model itu sendiri.

**Persoalan kedua, muatan nilai pada horizon waktu.** Mengikuti Douglas, pemilihan horizon sepuluh tahun adalah keputusan bermuatan nilai, sebab ia menentukan dampak siapa yang masuk hitungan dan dampak siapa yang tidak. Dampak yang baru muncul pada tahun kedua puluh dinyatakan tidak ada bukan oleh data melainkan oleh pilihan rancangan.

**Persoalan ketiga, kekeliruan tentang letak objektivitas.** Klaim bahwa hasil objektif karena murni perhitungan menempatkan objektivitas pada ketiadaan campur tangan manusia. Objektivitas yang dapat dipertahankan justru terletak pada keterbukaan atas keputusan yang diambil, sehingga pihak lain dapat memeriksa dan memperdebatkannya.

**Yang seharusnya dinyatakan.** Laporan perlu memuat daftar keputusan struktural beserta alasannya, analisis sensitivitas terhadap struktur dan bukan hanya terhadap parameter, pernyataan eksplisit tentang siapa yang kepentingannya tercakup dalam batas sistem, dan penyajian hasil dalam bentuk rentang skenario alih-alih satu angka tunggal.

Kasus 2 

**Pengetahuan yang tidak diakui.** Sekelompok petani di suatu daerah menolak jadwal tanam yang direkomendasikan berdasarkan model iklim regional, dan bertahan pada penanda musim yang mereka warisi. Selama lima tahun berturut-turut, hasil panen kelompok yang mengikuti penanda tradisional lebih tinggi. Seorang peneliti menyimpulkan bahwa hal ini kebetulan, karena penanda tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.

Bagaimana Anda menilai kesimpulan peneliti tersebut dengan menggunakan bahan kajian pertama dan keenam?

Buka pembahasan

**Kekeliruan pertama, mencampuradukkan asal usul dengan pembenaran.** Pernyataan bahwa suatu penanda tidak memiliki dasar ilmiah adalah pernyataan tentang bagaimana pengetahuan itu dihasilkan, bukan tentang apakah klaimnya benar. Dalam filsafat ilmu, pembedaan antara konteks penemuan dan konteks pembenaran justru menegaskan bahwa asal usul suatu gagasan tidak menentukan kebenarannya. Menolak klaim karena asal usulnya juga melanggar norma universalisme Merton.

**Kekeliruan kedua, mengabaikan bukti yang justru tersedia.** Data lima tahun merupakan bukti empiris yang dapat diperiksa. Menyebutnya kebetulan tanpa pengujian adalah langkah menyelamatkan asumsi latar, persis bentuk yang dijelaskan tesis Duhem dan Quine, dan dalam kasus ini penyelamatan tersebut tidak menghasilkan apa pun yang baru sehingga memenuhi ciri program yang merosot.

**Pembacaan yang lebih tepat.** Penanda tradisional dapat dibaca sebagai model empiris lokal yang terkalibrasi pada skala yang jauh lebih halus daripada model iklim regional, sehingga perbedaan hasil kemungkinan mencerminkan perbedaan resolusi spasial, bukan perbedaan antara ilmiah dan tidak ilmiah. Pertanyaan yang produktif adalah mekanisme apa yang ditangkap penanda itu dan mengapa model regional melewatkannya.

**Dimensi legitimasi.** Kasus ini memperlihatkan bahwa persoalannya bukan batas wilayah antara ilmu dan tradisi, melainkan siapa yang berwenang menetapkan kriteria penilaian, dan bagaimana klaim yang tidak dihasilkan melalui prosedur akademik dapat diuji tanpa lebih dahulu ditolak karena asal usulnya.

Kasus 3 

**Pengodean yang dialihkan.** Seorang peneliti mengumpulkan tiga puluh transkrip wawancara mendalam, lalu menggunakan model bahasa besar untuk melakukan pengodean tematik. Model menghasilkan enam tema dalam waktu singkat. Peneliti memeriksa sebagian keluaran, menyatakan hasilnya masuk akal, dan melaporkan bahwa pengodean dilakukan dengan bantuan kecerdasan buatan untuk meningkatkan konsistensi.

Persoalan epistemik apa yang timbul, dan apa yang perlu ditambahkan agar penelitian ini dapat dipertahankan?

Buka pembahasan

**Persoalan pertama, pengodean tematik bukan pekerjaan mekanis.** Pada penelitian interpretif, pengodean merupakan bagian dari proses penafsiran tempat peneliti membangun pemahaman atas makna yang dimaksud partisipan. Mengalihkan tahap ini berarti mengalihkan sebagian kegiatan yang justru menjadi sumber klaim pengetahuannya, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara metode dan asumsi paradigma yang dianut.

**Persoalan kedua, keburaman menggantikan jejak penafsiran.** Pada pengodean manual tersedia jejak keputusan yang dapat diperiksa penguji. Pada keluaran model, tidak tersedia rantai penalaran yang dapat ditelusuri, sehingga muncul keburaman epistemik pada tahap yang paling menentukan klaim penelitian.

**Persoalan ketiga, ilusi pemahaman.** Pernyataan bahwa hasil masuk akal merupakan contoh persis dari yang diperingatkan Messeri dan Crockett, sebab kemasukakalan keluaran dapat menghasilkan rasa paham tanpa disertai pemahaman atas bagaimana tema itu terbentuk. Klaim peningkatan konsistensi juga perlu diuji, sebab konsistensi keluaran tidak sama dengan kesahihan penafsiran.

**Yang perlu ditambahkan.** Pengodean manual mandiri atas sebagian sampel untuk dibandingkan dengan keluaran model, pelaporan tingkat kesesuaian dan analisis atas ketidaksesuaian yang muncul, dokumentasi perintah yang dipakai beserta versi model, dan pernyataan yang jelas bahwa tanggung jawab penafsiran tetap berada pada peneliti. Alternatif yang lebih aman secara epistemik adalah memakai model pada tahap yang tidak menjadi sumber klaim, misalnya untuk penataan awal data, dan tetap melakukan pengodean sendiri.

Latihan 4

### Audit asumsi pada penelitian Anda sendiri

Latihan ini yang paling langsung menyiapkan Anda untuk karya tulis dan presentasi. Ambil rancangan penelitian yang sedang Anda kerjakan, lalu jawab tujuh pertanyaan berikut secara tertulis. Bila ada pertanyaan yang tidak dapat Anda jawab, di situlah letak titik lemah yang akan ditemukan penguji.

- Apa yang saya anggap ada di dunia sehingga layak diteliti, dan apakah objek itu saya perlakukan sebagai sesuatu yang nyata di luar penafsiran para pelaku atau sebagai sesuatu yang terbentuk melalui penafsiran mereka?
- Jenis klaim apa yang hendak saya hasilkan, apakah klaim tentang makna dalam konteks, klaim tentang pola perilaku, klaim tentang mekanisme, atau klaim tentang rancangan yang berfungsi?
- Bukti seperti apa yang seharusnya membuat saya menarik kembali kesimpulan saya, dan apakah bukti itu mungkin diperoleh dengan rancangan yang saya pakai?
- Di mana batas sistem saya tetapkan, siapa yang kepentingannya berada di dalam batas itu, dan siapa yang berada di luar?
- Horizon waktu apa yang saya pilih, dan dampak siapa yang menjadi tidak terlihat karena pilihan itu?
- Bila saya menggabungkan lebih dari satu metode, pertanyaan berbeda apa yang dijawab masing-masing, dan bagaimana asumsi keduanya dapat dipertemukan tanpa saling meniadakan?
- Pada tahap mana saya memakai perkakas kecerdasan buatan, apa yang menjadi buram pada tahap itu, dan bagaimana saya tetap dapat mempertanggungjawabkan hasilnya?

Jawaban atas pertanyaan pertama dan kedua menentukan posisi paradigmatik Anda. Kerangka Burrell dan Morgan berguna untuk memeriksa apakah posisi itu konsisten.

SOSIOLOGI PERUBAHAN RADIKAL SOSIOLOGI REGULASI SUBJEKTIF OBJEKTIF Humanis radikal Realitas dikonstruksi, dan konstruksi itu mengekang kesadaran manusia Klaim: pembebasan dari kerangka makna yang menindas teori kritis, dekonstruksi Strukturalis radikal Struktur nyata yang mengandung pertentangan bawaan Klaim: mekanisme struktural yang menghasilkan ketimpangan ekonomi politik, realisme kritis Interpretif Realitas sosial adalah hasil konstruksi bersama para pelaku Klaim: pemahaman makna dalam konteks tertentu fenomenologi, etnografi, SSM Fungsionalis Realitas sosial berada di luar peneliti dan dapat diukur Klaim: hubungan antarvariabel yang dapat digeneralisasi survei, eksperimen, system dynamics 

**Kerangka Burrell dan Morgan.** Gunakan matriks ini untuk memeriksa kecocokan, bukan untuk memilih label. Bila metode yang Anda pakai berasal dari kuadran kiri bawah sementara klaim yang Anda ajukan berasal dari kuadran kanan bawah, di situlah letak ketidakkonsistenan yang akan dipersoalkan penguji. Realisme kritis sering ditempatkan pada sisi objektif tetapi menolak reduksi pada yang teramati, sehingga kerap dipakai sebagai jembatan dalam penelitian yang menggabungkan beberapa metode.

Persiapan

### Yang perlu disiapkan sebelum pertemuan

#### Bacaan yang paling berdampak bila waktunya terbatas

Bila Anda hanya punya beberapa jam, bacalah pengantar dan bab pertama Okasha, lalu bab tentang Kuhn pada Chalmers. Dua bacaan itu memberi kerangka yang cukup untuk mengikuti diskusi apa pun pada pertemuan awal. Bila masih ada waktu, tambahkan bab pembuka *The Structure of Scientific Revolutions* karena istilah dari buku ini akan muncul terus sepanjang perkuliahan.

#### Yang perlu Anda kuasai secara aktif

- Menjelaskan asimetri logis antara verifikasi dan falsifikasi tanpa membaca catatan
- Menyebutkan satu contoh dari bidang Anda sendiri tentang teori yang kebal terhadap pengujian
- Menerangkan mengapa satu hasil yang bertentangan tidak pernah menentukan secara logis
- Membedakan paradigma dalam pengertian Kuhn dari paradigma dalam pengertian metodologi penelitian
- Menyatakan posisi paradigmatik Anda sendiri beserta satu konsekuensi metodologisnya

#### Pertanyaan yang layak diajukan di kelas

Pertanyaan yang baik menunjukkan bahwa Anda sudah membaca dan menemukan ketegangan, bukan sekadar meminta penjelasan ulang. Beberapa yang dapat dipakai:

- Bila Laudan benar bahwa persoalan demarkasi sebaiknya ditinggalkan, atas dasar apa suatu badan publik memutuskan klaim mana yang layak dijadikan dasar kebijakan?
- Apakah kriteria progresif dan merosot dari Lakatos dapat diterapkan pada bidang yang objeknya berubah seiring waktu, seperti perilaku organisasi?
- Bila keburaman epistemik pada model berbasis agen sudah lama diterima dalam ilmu komputasi, apa sebenarnya yang baru pada keburaman model pembelajaran mendalam?
- Apakah keterbukaan atas nilai, sebagaimana diusulkan Douglas, cukup untuk memulihkan objektivitas, atau ia hanya memindahkan persoalannya ke tahap penilaian?

Satu hal yang membedakan jawaban baik dan jawaban biasa 

Jawaban biasa menyebutkan tokoh dan gagasannya. Jawaban baik menyebutkan persoalan apa yang hendak dipecahkan tokoh itu, dan persoalan baru apa yang muncul akibat pemecahannya. Filsafat ilmu adalah rangkaian persoalan yang saling mewarisi, dan penguasaan Anda diukur dari kemampuan menunjukkan warisan tersebut.

## Rujukan

Barbour, I. G. (1997). *Religion and Science: Historical and Contemporary Issues*. HarperSanFrancisco.

Bhaskar, R. (1975). *A Realist Theory of Science*. Leeds Books.

Burrell, G., & Morgan, G. (1979). *Sociological Paradigms and Organisational Analysis*. Heinemann.

Chalmers, A. F. (2013). *What Is This Thing Called Science?* (edisi ke-4). Hackett Publishing.

Checkland, P. (1981). *Systems Thinking, Systems Practice*. John Wiley & Sons.

Douglas, H. (2009). *Science, Policy, and the Value-Free Ideal*. University of Pittsburgh Press.

Epstein, J. M. (1999). Agent-Based Computational Models and Generative Social Science. *Complexity*, 4(5), 41 sampai 60.

Feyerabend, P. (1975). *Against Method*. New Left Books.

Godfrey-Smith, P. (2021). *Theory and Reality: An Introduction to the Philosophy of Science* (edisi ke-2). University of Chicago Press.

Gould, S. J. (1997). Nonoverlapping Magisteria. *Natural History*, 106, 16 sampai 22 dan 60 sampai 62.

Humphreys, P. (2004). *Extending Ourselves: Computational Science, Empiricism, and Scientific Method*. Oxford University Press.

Jumper, J., dkk. (2021). Highly Accurate Protein Structure Prediction with AlphaFold. *Nature*, 596, 583 sampai 589.

Krenn, M., & Champion, H. (2026). Philosophy of Autonomous Science: Ten Questions for the Coming Age of Artificial Scientists. *Dædalus*, edisi Winter dan Spring 2026.

Kuhn, T. S. (1962). *The Structure of Scientific Revolutions*. University of Chicago Press.

Lakatos, I. (1970). Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes. Dalam I. Lakatos & A. Musgrave (Ed.), *Criticism and the Growth of Knowledge*. Cambridge University Press.

Laudan, L. (1983). The Demise of the Demarcation Problem. Dalam R. S. Cohen & L. Laudan (Ed.), *Physics, Philosophy and Psychoanalysis*. Reidel.

Merton, R. K. (1973). *The Sociology of Science: Theoretical and Empirical Investigations*. University of Chicago Press.

Messeri, L., & Crockett, M. J. (2024). Artificial Intelligence and Illusions of Understanding in Scientific Research. *Nature*, 627, 49 sampai 58.

Okasha, S. (2016). *Philosophy of Science: A Very Short Introduction* (edisi ke-2). Oxford University Press.

Popper, K. R. (1959). *The Logic of Scientific Discovery*. Hutchinson.

Quine, W. V. O. (1951). Two Dogmas of Empiricism. *The Philosophical Review*, 60(1), 20 sampai 43.

Rudner, R. (1953). The Scientist qua Scientist Makes Value Judgments. *Philosophy of Science*, 20(1), 1 sampai 6.

Saunders, M., Lewis, P., & Thornhill, A. (2023). *Research Methods for Business Students* (edisi ke-9). Pearson.

Sterman, J. D. (2000). *Business Dynamics: Systems Thinking and Modeling for a Complex World*. Irwin/McGraw-Hill.

Suriasumantri, J. S. *Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer*. Pustaka Sinar Harapan.

Vincenti, W. G. (1990). *What Engineers Know and How They Know It*. Johns Hopkins University Press.

Winch, P. (1958). *The Idea of a Social Science and Its Relation to Philosophy*. Routledge & Kegan Paul.

Winsberg, E. (2010). *Science in the Age of Computer Simulation*. University of Chicago Press.

Panduan belajar mandiri untuk mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan. Disusun dari rumusan bahan kajian dan capaian pembelajaran pada kurikulum, dengan penjelasan yang bersandar pada literatur yang tercantum di bagian rujukan.

Kutipan rumusan bahan kajian pada setiap bagian diambil apa adanya dari dokumen kurikulum. Uraian, diagram, dan latihan merupakan bahan pendamping, bukan bagian dari dokumen resmi mata kuliah.